Jarak

Ada suatu masa di mana aku dan kau terpisah oleh sekat bernama jarak. Izinkan aku memutar kembali ingatan kita dulu. Sembari aku memelukmu erat dengan sisa air mata yang ada; walaupun nantinya akan habis ditelan waktu.

Aku dan kau sedang tidak dekat. Mata kita rekat. Mulut kita tercekat. Bayang-bayang kita enyah bersama pekat.

Jika aku dan kau saling rindu, jutaan harap menguar dari dalam hati. Memaksa tubuh dan segenap pikir agar dapat saling temu. Walau harus berakhir dengan keluh dan juga peluh.

Kini aku dan kau kian jauh. Harapan demi harapan akan sebuah pertemuan semakin ingin kita rengkuh. Namun apa daya jika akhirnya kita tak saling butuh.

Masih adakah rasa yang ingin kita kayuh?
Meski rasa yang pernah ada di antara kita sudah lebih dulu rapuh.

Kubiarkan rasa ini kian gaduh lalu hilang bersama kopi yang kuseduh.


Dari,
Hati yang angkuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta Untuk Aam

Apa Pedulimu?

Apa Kamu (Masih) Merindukanku?