Menanti Senja

Pukul empat sore sebentar lagi
Satu dua jam kemudian sudah senja
Meja dan kursi kusiapkan di tengah halaman belakang
Tak lupa buku-buku cerita kuletakkan di sisi meja
Secangkir teh hangat sedang kuseduh
Kutatap langit yang masih terik oleh matahari
Perlahan diselimuti awan abu-abu
Kilat menyambar dari balik pohon paling tinggi di halaman
"Lho mau hujan?" Pikirku terheran-heran
Belum sempat teh hangat terhidang di meja
Rambut sudah basah saja
Aku berlari menuju rumah
Kupandangi sekeliling halaman
Terlihat meja kursi basah kuyup tak berdaya
Buku cerita, pasar malam di kepala, harum rumput kering di halaman belakang semuanya sirna
Senja tak akan datang hari ini
Mungkin untuk seterusnya
Senja sudah mati
 (2014)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta Untuk Aam

Apa Pedulimu?

Apa Kamu (Masih) Merindukanku?