Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2014

Hari Ibu

Ruang-ruang kosong itu kunamakan kesunyian tatkala jauh dari yang kusebut rumah Tempat di mana aku akan kembali memeluk guratan kerinduan dari sosok penuh dengan kasih sayang Ibu, Ciptaan Tuhan nan mulia Daripadanya tumbuh benih-benih kebahagiaan yang tak pernah bisa diukur dengan apapun Kasih sayangnya yang tiada tara mengalir deras hingga titik darah penghabisan Ibu, Tempatku berpulang dan berlindung ketika lara hati yang kusimpan sendiri sudah tak kuat bertahan lagi Kutangisi diamku sendiri Mengecap luka Ibu hadir menumbuhkan rindu Menciptakan hawa yang begitu ikhlasnya Ternyata sudah genap dua belas hari Jauh dari segalanya tentang Ibu Pelukan hangat, usapan tangan, masakan lezat dan segala hal yang membuat bahagia "Nak, kelak kau akan dapatkan apapun yang diinginkan jika sabar selalu ada di genggamanmu." Begitulah pesan Ibu kepadaku Namun aku terlalu sombong Aku bersikeras kuat sendiri Dan berpikir aku tak butuh Ibu Seiring berjalannya waktu, b...

Hampa

Genap sepekan Di kala hujan sudah turun entah berapa kali Sepasang mata yang teramat kurindukan Ia pergi untuk kembali Raut wajah yang menenangkan Bahu yang nyaman untuk disandari Kian hari memikat hati Aku, tenang dibuatnya Nyaman di dekatnya Rela menunggu walaupun hanya bertegur sapa Memandang sekilas lirik matanya Hampa nyata rasanya Ketika Ia tak kunjung tiba Seolah sembunyi jadi senjata Akankah Ia datang Membawa jutaan harap dan rindu yang bergejolak Yang nantinya kita lebur pada suatu pertemuan

Cinta yang Bertumpu pada Kenyamanan

Sebagai manusia biasa, aku tak tahu akan kapan, dengan siapa, dan di mana kita akan jatuh cinta. Entah itu dengan orang yang kita kenal, baru dikenal, ataupun belum kita kenal sama sekali. Cinta itu aneh dan cenderung seenaknya sendiri. Hanya dengan beberapa alasan saja bisa menimbulkan cinta.  Bisa cinta abadi, sesaat, atau mungkin cinta paksaan saja. Rumit memang. Cinta juga bisa bertumpu pada beberapa hal. Salah satunya adalah bertumpu pada suatu hal yang sering disebut " kenyamanan ". Untuk soal kenyamanan bisa relatif dari masing-masing orang yang menjalaninya. Nyaman yang bagaimana? Bisa nyaman yang berujung pada rasa ingin memiliki, Bisa nyaman yang hanya sesaat ataupun sementara saja, Ataukah nyaman yang begitu hangat dirasa hingga menimbulkan rasa sayang, cinta, dan perhatian yang mungkin cenderung berlebihan. Rasa nyaman terbangun karena adanya kebersamaan yang intens antara manusia yang satu dengan yang lainnya.  Bagaimana jika nyaman datang ...

Puisi Pukul Tiga

Lelah berpikir yang tidak-tidak Siksa batin menyayat sendiri Lagi-lagi luka Luka yang terus terulang Ingin mati rasanya Seperti sore pukul tiga Sehabis adzan ashar berkumandang Dengan hawa yang sama Berkali-kali (2014)

Sepi

Kudapati sosok penuh luka dalam kenangan Ia bersimbah masa lalu yang tak pernah lekang Matanya meratap Tertekan lalu mengiris nadinya sendiri (2014)

Pagi Berisik

Sebuah pagi kecil berisik dengan riangnya di balik jendela Merona menyilaukan mataku yang masih ingin terpejam menikmati mimpi Sedang pohon samping rumah menggugurkan daunnya Tanda musim sudah berganti Ternyata sudah selama itu aku menunggu hadirnya sebuah kepastian Dari yang kusebut masa lalu dan kini hanya menjadi kenangan Lama sekali sampai-sampai aku lupa bagaimana rupanya Kenangan penuh luka itu dulunya sudah mengering Lalu kembali basah oleh hadirnya seorang yang tak diharapkan Terkatung-katung Terkoyak-koyak Menjadi serpihan yang tak ada artinya lagi Penyesalan datang beriringan Aku bangun dari tidur panjang Kemudian pagi kecil perlahan diam Luka pergi (2014)

Menanti Senja

Pukul empat sore sebentar lagi Satu dua jam kemudian sudah senja Meja dan kursi kusiapkan di tengah halaman belakang Tak lupa buku-buku cerita kuletakkan di sisi meja Secangkir teh hangat sedang kuseduh Kutatap langit yang masih terik oleh matahari Perlahan diselimuti awan abu-abu Kilat menyambar dari balik pohon paling tinggi di halaman "Lho mau hujan?" Pikirku terheran-heran Belum sempat teh hangat terhidang di meja Rambut sudah basah saja Aku berlari menuju rumah Kupandangi sekeliling halaman Terlihat meja kursi basah kuyup tak berdaya Buku cerita, pasar malam di kepala, harum rumput kering di halaman belakang semuanya sirna Senja tak akan datang hari ini Mungkin untuk seterusnya Senja sudah mati   (2014)