Sedikit (Saja) Perhatikanlah Aku

Aku sangat tahu posisiku yg belum waktunya dan entah kapan akan jadi prioritas utama buatmu nanti.
Aku tak berhak menuntutmu apa-apa bahkan hal kecil sekalipun hanya untuk memenuhi keinginan yang terpendam jauh dalam hatiku.
Walau hati sudah memberontak ingin sekali-kali ataupun segera berkali-kali ingin diprioritaskan.
Aku mengerti posisiku saat ini.
Jika aku egois, aku akan menerima bumerang yg kulempar sendiri.

Namun, apa aku harus mengalah?
Mengalah untuk meminta hak meski hati sudah bergejolak ingin dijadikan salah satu prioritas.
Aku merasa tak dan belum berhak untuk meminta hakku itu sekarang. Melihat kau yang sedang seperti itu keadaannya.
Aku tak ingin menambah beban yang sedang kau panggul.
Kau sibuk dan itu yang aku tahu.
Aku coba untuk selalu dan terus mengerti keadaanmu dan juga keadaan kita.

Dan kini, aku merasa sudah terlalu banyak diliputi kecemasan dengan tidak adanya penjelasanmu hingga hari ini.
Kecemasan akan sebuah keputusan pahit yang bisa saja kau berikan padaku sewaktu-waktu, seiring berjalannya waktu.

Aku takut.. takut kehilangan.. takut menerima sebuah kenyataan pahit.
Aku sungguh, sungguh tak tahu lagi harus bagaimana menunjukkan apa yg semestinya kau pedulikan tentangku, tanpa harus kuberitahu kau terlebih dahulu..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta Untuk Aam

Apa Pedulimu?

Apa Kamu (Masih) Merindukanku?