Entah Bagaimana Akhirnya Nanti..
Entah mau dari mana kisah ini berawal. Kisah yang sebenarnya biasa-biasa saja bila diceritakan ke orang yang satu dengan yang lainnya, tapi cerita ini kutulis dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir membasahi kertas di bawah tanganku.
Entah sudah berapa lembar kertas yang basah lalu kubuang ketika kutumpahkan kisah ini.
Entah dengan dasar apa, hati ini bisa mendadak terluka dan sakit rasanya ketika kalimat-kalimat yang kurasa menyakitkan terucap dari bibir seorang yang begitu aku kasihi.
Ia, kusebut demikian
Ia yang menjadi dan hampir setiap waktu memenuhi isi kepalaku,
Ia yang menjejali hatiku dengan rindu tak berkesudahan,
Ia, yang kusebut di tiap doa-doaku,
Ia, jawaban atas harapan-harapan masa depanku.
Menyakitkan?
Sebegitu menyakitkankah?
Aku tak tahu menahu dan aku bukan ahlinya dalam hal ini. Aku tak pandai menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
Bicara soal menyakitkan, terutama menyakitkan hati, mungkinkah Ia rajanya?
Mungkin benar dan mungkin juga salah.
Di sisi kanan hatiku berkata, "Ia hanya mengucapkan kata-kata yang ada dalam pikirannya, bukan hatinya."
Itu saja.
Tapi di sisi kiriku berkata, "Ia memang begitu, tidak sepenuhnya tertarik kepadamu, Ia bicara tentang kenyataan."
Dan aku pun bimbang dibuatnya.
Ah, mungkin ini terlalu rumit.
Jika aku teruskan untuk memikirkannya, mungkin aku akan mundur saja atau mencoba untuk berbelok arah. Ya, sekedar untuk menjauhkan diri.
Tapi apa keputusan ini sudah tepat?
Mungkin aku akan coba sekali lagi, memberi kesempatan pada hatiku untuk lebih bersabar lagi. Meneruskan langkah ini ke depan, menuju satu titik di mana aku dan Ia akan dipersatukan semesta, takkan ada yang bisa memisahkan lagi, begitu juga segala kalimat-kalimat yang menyakitkan akan kubuang saja jauh-jauh, lalu kulambaikan tanganku kepada mereka.
Lalu kita lihat bersama-sama.
Entah bagaimana akhirnya nanti..
Komentar
Posting Komentar