Sepatu Karet Coklat Tua

Ah, entah sudah berapa lama aku menyukaimu. Semenjak kemunculanmu beberapa tahun yang lalu. Waktu terasa begitu cepat berlalu.

Aku membelimu pertama kali lewat perantara temanku. Aku suka dengan warnamu, coklat tua. Warna yang netral jika dipadukan dengan berbagai jenis model baju. Hampir setiap waktu jika akan bepergian, tak lupa aku memakaikanmu di kedua kakiku. Model yang simpel dengan warna polos dan tidak terkesan norak. Aku jatuh cinta padamu. Hingga kemudian aku ingin memberimu kawan agar kamu tidak jenuh.

Sekitar akhir tahun 2012, aku berkesempatan untuk bekerja di Bandung. Waktu itu aku bertemu dengan kawan-kawanmu. Coklat krem, biru dongker, dan merah fanta. Kubeli mereka dalam satu waktu. Aku pun mencintai mereka.

Seiring berjalannya waktu, dengan segala sibuk yang aku rengkuh, aku mulai kehilanganmu. Entah kemana dirimu pergi. Hingga akhirnya tergantikan oleh sosok mereka bertiga.

Semakin hari, entah mengapa sosok mereka mulai membosankan. Jika kupadukan dengan baju-bajuku, mereka kelihatan tak serasi. Norak.

Aku pun merindukan sosokmu.

"Sepatu karet coklat tua kesayanganku, kamu dimana?"
Gumamku dalam hati.

Aku mencarimu di rak sepatu, di kolong meja, di kolong tempat tidurku, di tempat-tempat tersembunyi lainnya, dan di manapun. Aku benar-benar kebingungan.

Beberapa tahun kemudian, tak sengaja kutemukan kamu teronggok bersama barang-barang bekas di gudang. Kotor dan sangat berdebu. Dengan sigap, aku pun segera mencucimu dengan lap dan deterjen agar bersih dan juga wangi. Hingga akhirnya, kamu seperti lahir kembali. Sama persis saat kita pertama kali berjumpa. Aku senang sekali.

Terimakasih atas segala perlindunganmu dari sengatan panas matahari.

Terimakasih sudah melindungiku dari genangan air di jalan kemanapun aku pergi.

Terimakasih sudah menemaniku. Setiap saat, setiap waktu.

Terimakasih, sepatu karet coklat tua kesayanganku..

:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta Untuk Aam

Apa Pedulimu?

Apa Kamu (Masih) Merindukanku?