Jika Aku Tak (Lagi) Sabar Denganmu
Jika aku tak (lagi) sabar denganmu.
Apa aku harus meninggalkanmu?
Meninggalkan bermacam kenangan di antara kita, yang terlanjur sudah kita rajut sejauh ini.
Langkah demi langkah telah kita rengkuh dan lewati bersama dari awal pertemuan kita dahulu.
Apakah kamu masih ingat, Sayang?
Waktu di mana Tuhan menuliskan secarik takdirNya dengan pena kesayanganNya bahwa aku dan kamu dipertemukan dengan begitu indahnya. Tanpa ada seorang yang menjadi perantara. Hanya kita.
Tahun Pertama
Aku mencoba menyelamimu, menyelami kita. Mencoba untuk berbagi kasih dan sayang bersama denganmu. Awal yang begitu sederhana. Sesederhana daun yang jatuh dari tangkainya sebab tertiup angin.
Sabar dan bertahan sudah tentu menjadi jimat yang selalu aku genggam kemanapun aku pergi. Entah saat denganmu ataupun tak sedang denganmu.
Aku terus mencoba untuk menikmati keadaan ini. Menikmati mencintaimu, dengan caraku sendiri, dengan lebih dalam lagi, dan terus sampai entah sejauh mana aku bisa bertahan dengan keadaan ini.
Keterpaksaanmu sudah lebih dulu aku cium sebelum kejujuran yang menyakitkan ini kamu sampaikan kepadaku. Aku tak terkejut. Walaupun mendung di kepalaku menumpahkan hujannya ke dalam mataku, lalu membasahi pipiku.
Aku memaksa diri untuk kuat di hadapanmu. Mencoba selalu kuat demi tulus yang aku bawa sejak awal pertemuan kita dahulu.
Tahun Kedua
Jatuh bangun takdir Tuhan telah kita lalui dengan jutaan hujan di setiap harinya. Segala pahit manis pun sudah kita cecap sedemikian rupa. Hingga akhirnya kita saling menyadari apa yang telah terjadi.
Tak terasa sudah tahun kedua. Musim kesedihan telah berlalu. Kini digantikan oleh musim yang ingin selalu kita lalui bersama. Mencoba saling memahami dan berbagi kasih sayang dengan tulus apa adanya. Indah dan begitu berwarna.
Jika nanti akhirnya aku memang sudah tak lagi sabar denganmu.
Apakah kamu mau menggantikanku untuk sekedar berbagi sabar dan terus bertahan untukku?
Mencoba untuk selangkah lebih maju mencintaiku dengan lebih tulus lagi.
Maukah kamu?
PS: Terimakasih untuk hati yang selalu sabar menanti dan sabar untuk mencintai. Sekali hati ini ingin singgah di satu tempat, ijinkan ia menetap di sana. Jangan coba untuk kamu dustakan ataupun kamu tinggalkan. Jagalah ia dengan segenap jiwa ragamu, karena ia telah memilihmu. Memilih di antara takdir-takdir Tuhan di atas sana.
Komentar
Posting Komentar