Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2014

Jika Aku Tak (Lagi) Sabar Denganmu

Jika aku tak (lagi) sabar denganmu. Apa aku harus meninggalkanmu? Meninggalkan bermacam kenangan di antara kita, yang terlanjur sudah kita rajut sejauh ini. Langkah demi langkah telah kita rengkuh dan lewati bersama dari awal pertemuan kita dahulu. Apakah kamu masih ingat, Sayang? Waktu di mana Tuhan menuliskan secarik takdirNya dengan pena kesayanganNya bahwa aku dan kamu dipertemukan dengan begitu indahnya. Tanpa ada seorang yang menjadi perantara. Hanya kita. Tahun Pertama Aku mencoba menyelamimu, menyelami kita. Mencoba untuk berbagi kasih dan sayang bersama denganmu. Awal yang begitu sederhana. Sesederhana daun yang jatuh dari tangkainya sebab tertiup angin. Sabar dan bertahan sudah tentu menjadi jimat yang selalu aku genggam kemanapun aku pergi. Entah saat denganmu ataupun tak sedang denganmu. Aku terus mencoba untuk menikmati keadaan ini. Menikmati mencintaimu, dengan caraku sendiri, dengan lebih dalam lagi, dan terus sampai entah sejauh mana aku bi...

Apa Kamu (Masih) Merindukanku?

Untuk kamu yang aku sayang. Sayang, Apa kamu suka diam-diam memikirkanku? Mengingat-ingat kekonyolan yang aku perbuat padamu. Sayang, Apa kamu masih suka senyam-senyum ketika aku melemparkan lawakan-lawakan kecil di sela obrolan kita di WhatsApp? Sayang, Apa kamu masih sering gemetar dan malu-malu ketika kamu mencoba mengenggam erat tanganku di keramaian? Sayang, Apa degup jantungmu sekarang masih sama seperti awal kisah kita dahulu? Sayang, Apa kamu (masih) merindukanku?

Kado Ulang Tahun

Dear Selviana (@selvyva) Selamat tanggal delapan. Hari ini hari bahagiamu. Genap dua puluh dua tahun sudah Ibumu melahirkan anak gadis sebaik kamu, sahabatku sekaligus kawan seperjuangan semasa kuliah. Seingatku, kita dulu belum sedekat ini, tapi menjadi terbiasa karena saling tegur sapa di antara kita, yang menjadikan kita berkawan hingga saat ini. Kurang lebih empat tahun yang lalu. Awalnya kita hanya sering berpapasan tanpa tahu siapa namamu. Hingga kita berkenalan lewat salah satu teman sekelasku yang masih satu kota denganmu. Tanggal lahir kita selisih delapan belas hari. Dengan menjunjung zodiak yang sama, kita bisa saling mengerti bagaimana sifat masing-masing walaupun tak jarang juga kita berselisih paham karena persamaan sifat tadi. Terlepas dari semua itu, aku menyayangimu layaknya saudara sendiri. Sudah sejak lama, entah sudah berapa bulan aku tak menyambangi kosmu hingga kutulis surat kedelapan ini, yang kujadikan kado kecil ulang tahunmu. Sel...

Teruntuk H, Semoga Bahagia

Kepada H, sepupuku.. Selamat untuk hari ini, hari di mana pernikahanmu sedang dilangsungkan. Entah kamu bahagia atau tidak, entah ayah, adik lelaki, dan juga adik perempuanmu. Dengan selisih usia empat tahun, mungkin aku tidak terlalu bisa dekat denganmu untuk sekedar memahami jalan pikiranmu, membaur dengan teman-teman sebayamu, dan hal lainnya. Aku pikir, kepalamu terlalu keras melebihi batu. Terkadang hatimu juga ikut-ikutan. Hingga ayah dan kedua adikmu lebih memilih diam dan mengalah hanya untuk membuatmu senang. Harapan demi harapan selalu terpanjat dari ucapan seorang yang mulia, ayahmu. Ayah yang setiap detik hidupnya tak pernah luput untuk mengingatkanmu menuju kehidupan yang lebih baik. Walau terkadang kamu sering mengabaikan beliau. Entah.. Entah sampai kapan dirimu begini. Sebagai seorang yang tidak terlalu penting buatmu, aku hanya bisa berharap. Berharap kapan kepalamu dihujani air hingga mengalir ke matamu, lalu hatimu menyaksikan betap...

Sepatu Karet Coklat Tua

Ah, entah sudah berapa lama aku menyukaimu. Semenjak kemunculanmu beberapa tahun yang lalu. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Aku membelimu pertama kali lewat perantara temanku. Aku suka dengan warnamu, coklat tua. Warna yang netral jika dipadukan dengan berbagai jenis model baju. Hampir setiap waktu jika akan bepergian, tak lupa aku memakaikanmu di kedua kakiku. Model yang simpel dengan warna polos dan tidak terkesan norak. Aku jatuh cinta padamu. Hingga kemudian aku ingin memberimu kawan agar kamu tidak jenuh. Sekitar akhir tahun 2012, aku berkesempatan untuk bekerja di Bandung. Waktu itu aku bertemu dengan kawan-kawanmu. Coklat krem, biru dongker, dan merah fanta. Kubeli mereka dalam satu waktu. Aku pun mencintai mereka. Seiring berjalannya waktu, dengan segala sibuk yang aku rengkuh, aku mulai kehilanganmu. Entah kemana dirimu pergi. Hingga akhirnya tergantikan oleh sosok mereka bertiga. Semakin hari, entah mengapa sosok mereka mulai membosankan. Jika kupadukan de...

Surat Cinta Untuk Aam

"Hai." "Apa kabar, Am?" Mungkin terdengar lucu sapaan yang baru saja aku tulis. Aku terlalu gugup mengungkapkan segala rasa bahagia ini. Sudah sejak lama menantikan saat-saat di mana aku bisa dengan sangat leluasa menuliskan beberapa kalimat yang sepertinya sedikit kaku untuk dibaca ataupun didengar olehmu. Entah sejak kapan aku mengagumi sosok menawan yang kutulis ini. Arham Arsalan, begitu namanya. Lelaki yang menurutku begitu lucu dengan caranya sendiri. Menggoda dengan tulisan-tulisan yang membuatku terpingkal-pingkal. "Ah, lucu sekali lelaki ini." Gumamku sambil memandangi avatar twitter @arhamrsalan. Begitu menyenangkannya hampir di sela waktu yang kupunya, kusempatkan membaca kalimat-kalimat lucu yang kautulis. Walaupun aku tahu, aku hanya sebagian kecil pengagum rahasia dari berjuta-juta pengagummu di luar sana. Ingin rasanya, kubunuh jarak di antara kita lalu kita dipertemukan dalam satu tempat. Sekedar untuk berbincang-bi...

Kau

Kau, Gumaman di setiap doa-doa yang kupanjatkan pada Sang Maha Pengabul Doa-doa. Kau, Ketetapan Tuhan yang diriwayatkan untukku. Semoga kelak bisa kujaga Kau, Dengan seluruh keluh kesah dalam perjalananku.