Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Hari Ibu

Ruang-ruang kosong itu kunamakan kesunyian tatkala jauh dari yang kusebut rumah Tempat di mana aku akan kembali memeluk guratan kerinduan dari sosok penuh dengan kasih sayang Ibu, Ciptaan Tuhan nan mulia Daripadanya tumbuh benih-benih kebahagiaan yang tak pernah bisa diukur dengan apapun Kasih sayangnya yang tiada tara mengalir deras hingga titik darah penghabisan Ibu, Tempatku berpulang dan berlindung ketika lara hati yang kusimpan sendiri sudah tak kuat bertahan lagi Kutangisi diamku sendiri Mengecap luka Ibu hadir menumbuhkan rindu Menciptakan hawa yang begitu ikhlasnya Ternyata sudah genap dua belas hari Jauh dari segalanya tentang Ibu Pelukan hangat, usapan tangan, masakan lezat dan segala hal yang membuat bahagia "Nak, kelak kau akan dapatkan apapun yang diinginkan jika sabar selalu ada di genggamanmu." Begitulah pesan Ibu kepadaku Namun aku terlalu sombong Aku bersikeras kuat sendiri Dan berpikir aku tak butuh Ibu Seiring berjalannya waktu, b...

Hampa

Genap sepekan Di kala hujan sudah turun entah berapa kali Sepasang mata yang teramat kurindukan Ia pergi untuk kembali Raut wajah yang menenangkan Bahu yang nyaman untuk disandari Kian hari memikat hati Aku, tenang dibuatnya Nyaman di dekatnya Rela menunggu walaupun hanya bertegur sapa Memandang sekilas lirik matanya Hampa nyata rasanya Ketika Ia tak kunjung tiba Seolah sembunyi jadi senjata Akankah Ia datang Membawa jutaan harap dan rindu yang bergejolak Yang nantinya kita lebur pada suatu pertemuan

Cinta yang Bertumpu pada Kenyamanan

Sebagai manusia biasa, aku tak tahu akan kapan, dengan siapa, dan di mana kita akan jatuh cinta. Entah itu dengan orang yang kita kenal, baru dikenal, ataupun belum kita kenal sama sekali. Cinta itu aneh dan cenderung seenaknya sendiri. Hanya dengan beberapa alasan saja bisa menimbulkan cinta.  Bisa cinta abadi, sesaat, atau mungkin cinta paksaan saja. Rumit memang. Cinta juga bisa bertumpu pada beberapa hal. Salah satunya adalah bertumpu pada suatu hal yang sering disebut " kenyamanan ". Untuk soal kenyamanan bisa relatif dari masing-masing orang yang menjalaninya. Nyaman yang bagaimana? Bisa nyaman yang berujung pada rasa ingin memiliki, Bisa nyaman yang hanya sesaat ataupun sementara saja, Ataukah nyaman yang begitu hangat dirasa hingga menimbulkan rasa sayang, cinta, dan perhatian yang mungkin cenderung berlebihan. Rasa nyaman terbangun karena adanya kebersamaan yang intens antara manusia yang satu dengan yang lainnya.  Bagaimana jika nyaman datang ...

Puisi Pukul Tiga

Lelah berpikir yang tidak-tidak Siksa batin menyayat sendiri Lagi-lagi luka Luka yang terus terulang Ingin mati rasanya Seperti sore pukul tiga Sehabis adzan ashar berkumandang Dengan hawa yang sama Berkali-kali (2014)

Sepi

Kudapati sosok penuh luka dalam kenangan Ia bersimbah masa lalu yang tak pernah lekang Matanya meratap Tertekan lalu mengiris nadinya sendiri (2014)

Pagi Berisik

Sebuah pagi kecil berisik dengan riangnya di balik jendela Merona menyilaukan mataku yang masih ingin terpejam menikmati mimpi Sedang pohon samping rumah menggugurkan daunnya Tanda musim sudah berganti Ternyata sudah selama itu aku menunggu hadirnya sebuah kepastian Dari yang kusebut masa lalu dan kini hanya menjadi kenangan Lama sekali sampai-sampai aku lupa bagaimana rupanya Kenangan penuh luka itu dulunya sudah mengering Lalu kembali basah oleh hadirnya seorang yang tak diharapkan Terkatung-katung Terkoyak-koyak Menjadi serpihan yang tak ada artinya lagi Penyesalan datang beriringan Aku bangun dari tidur panjang Kemudian pagi kecil perlahan diam Luka pergi (2014)

Menanti Senja

Pukul empat sore sebentar lagi Satu dua jam kemudian sudah senja Meja dan kursi kusiapkan di tengah halaman belakang Tak lupa buku-buku cerita kuletakkan di sisi meja Secangkir teh hangat sedang kuseduh Kutatap langit yang masih terik oleh matahari Perlahan diselimuti awan abu-abu Kilat menyambar dari balik pohon paling tinggi di halaman "Lho mau hujan?" Pikirku terheran-heran Belum sempat teh hangat terhidang di meja Rambut sudah basah saja Aku berlari menuju rumah Kupandangi sekeliling halaman Terlihat meja kursi basah kuyup tak berdaya Buku cerita, pasar malam di kepala, harum rumput kering di halaman belakang semuanya sirna Senja tak akan datang hari ini Mungkin untuk seterusnya Senja sudah mati   (2014)

Bosan Pangkal Jenuh

Ada saat di mana bosan dan jenuh berbaur menjadi satu kesatuan utuh, dengan segala kekuatannya meruntuhkan rasa dalam dada. Yang dulunya sayang, yang dulunya cinta, berganti menjadi sia-sia saja hanya karena bosan dan jenuh. Jemu melakukan hal yang sama berkali-kali. "Kamu lagi ngapain?" "Udah makan belum?" Adalah sebagian kecil percakapan yang begitu membosankannya untuk sebuah hubungan yang sudah bertahun-tahun telah dijalani. Monoton. Terkadang jarak yang memisahkan pun juga bisa jadi salah satu sebab di antara sekian penyebab lainnya. Menjemukan. Terlalu biasa. Bahkan tak jarang, hanya karena sebuah kebosanan ataupun kejenuhan sesaat saja bisa saling membunuh perasaan masing-masing. Menyakitkan. Bukankah seharusnya ada inisiatif dengan memberikan hal-hal yang baru dalam suatu hubungan, agar kebosanan tak cepat hinggap? Bagaimana menurutmu?

Celetuk

Aku suka dengan sibuk Dengan segala pikiran berkecamuk Walau kadang ku terkantuk-kantuk Godaan menambah remuk Manusia mengamuk Masalah kian memburuk Mungkin ku hanya butuh peluk Atau sekedar kasur yang empuk Rindu yang kian merajuk Membuat hati tertusuk-tusuk Ijinkan doa-doa baik segera masuk Semoga mereka tak hanya celetuk

Dalam Pikiran

Hujan dan dingin tak ada kabar Senja menyendiri menunggu ajal Senja menggantung diri Malam semakin sepi Senja meninggal Malam mulai terpenggal Sunyi makin menjejal Dalam pikiran.

Remuk.

Matahari kian kemaruk Hujan lama-lama ambruk Senja dan malam saling tubruk Kabut-kabut mulai mengetuk Para istri datang merajuk Dimanakah ku bisa temukan kasur yang empuk? Jika dendam masih saja senang merasuk Remuk.

Sedikit (Saja) Perhatikanlah Aku

Aku sangat tahu posisiku yg belum waktunya dan entah kapan akan jadi prioritas utama buatmu nanti. Aku tak berhak menuntutmu apa-apa bahkan hal kecil sekalipun hanya untuk memenuhi keinginan yang terpendam jauh dalam hatiku. Walau hati sudah memberontak ingin sekali-kali ataupun segera berkali-kali ingin diprioritaskan. Aku mengerti posisiku saat ini. Jika aku egois, aku akan menerima bumerang yg kulempar sendiri. Namun, apa aku harus mengalah? Mengalah untuk meminta hak meski hati sudah bergejolak ingin dijadikan salah satu prioritas. Aku merasa tak dan belum berhak untuk meminta hakku itu sekarang. Melihat kau yang sedang seperti itu keadaannya. Aku tak ingin menambah beban yang sedang kau panggul. Kau sibuk dan itu yang aku tahu. Aku coba untuk selalu dan terus mengerti keadaanmu dan juga keadaan kita. Dan kini, aku merasa sudah terlalu banyak diliputi kecemasan dengan tidak adanya penjelasanmu hingga hari ini. Kecemasan akan sebuah keputusan pahit yang bisa saja kau ber...

Senja Yang Tak Tahu Diri

Ku terbangun dari tidur panjangku Yang entah sudah berapa lama waktu kubiarkan berlalu begitu saja Pergi jauh ditiup semesta Matahari siang ini sudah meninggi Meninggalkan jauh sang pagi yang dipeluknya erat subuh tadi Tinggi semakin tinggi hingga sudah tak kelihatan lagi Bulan perlahan mendekati matahari Mengecup mesra setiap sudut bibir pujaan hatinya Mesra.. Tersebutlah senja di kala itu Pandangan sinis telah ku arahkan ke atas langit Apa ini? Hatiku perlahan bergejolak Ada satu bagian yang terasa sakit begitu dalamnya Nyeri Ini rindu! Rindu yang tak kunjung berbalas Rindu yang teramat menyakitkan Aku membenci rindu Ah dasar memang kau senja yang tak tahu diri

Telinga Baik

Kepada, Telinga baik yang rela mendengar segala berisik dan isak yang kuperdengarkan. Sejenak kusampaikan sejuta maaf dan beberapa rindu yang masih tersisa dalan dada. Namamu yang begitu indahnya, kusebut perlahan melalui bias-bias langit dalam jiwa. Namun, Kini kau mulai bersemayam dalam ruang paling ujung. Tertunduk lemas dan menua. Apa kau masih kuat? 'Tuk sekedar mendengar keluhanku lagi dan lagi, walaupun mulutmu sudah tak kuat berucap iya. Wahai semesta, terimakasih atas penciptaan ini. Karenanya aku bersyukur.. @ALFR1DA

Entah Bagaimana Akhirnya Nanti..

Entah mau dari mana kisah ini berawal. Kisah yang sebenarnya biasa-biasa saja bila diceritakan ke orang yang satu dengan yang lainnya, tapi cerita ini kutulis dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir membasahi kertas di bawah tanganku. Entah sudah berapa lembar kertas yang basah lalu kubuang ketika kutumpahkan kisah ini. Entah dengan dasar apa, hati ini bisa mendadak terluka dan sakit rasanya ketika kalimat-kalimat yang kurasa menyakitkan terucap dari bibir seorang yang begitu aku kasihi. Ia, kusebut demikian Ia yang menjadi dan hampir setiap waktu memenuhi isi kepalaku, Ia yang menjejali hatiku dengan rindu tak berkesudahan, Ia, yang kusebut di tiap doa-doaku, Ia, jawaban atas harapan-harapan masa depanku. Menyakitkan? Sebegitu menyakitkankah? Aku tak tahu menahu dan aku bukan ahlinya dalam hal ini. Aku tak pandai menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Bicara soal menyakitkan, terutama menyakitkan hati, mungkinkah Ia rajanya? Mungkin benar dan mungkin juga sa...

Jika Aku Tak (Lagi) Sabar Denganmu

Jika aku tak (lagi) sabar denganmu. Apa aku harus meninggalkanmu? Meninggalkan bermacam kenangan di antara kita, yang terlanjur sudah kita rajut sejauh ini. Langkah demi langkah telah kita rengkuh dan lewati bersama dari awal pertemuan kita dahulu. Apakah kamu masih ingat, Sayang? Waktu di mana Tuhan menuliskan secarik takdirNya dengan pena kesayanganNya bahwa aku dan kamu dipertemukan dengan begitu indahnya. Tanpa ada seorang yang menjadi perantara. Hanya kita. Tahun Pertama Aku mencoba menyelamimu, menyelami kita. Mencoba untuk berbagi kasih dan sayang bersama denganmu. Awal yang begitu sederhana. Sesederhana daun yang jatuh dari tangkainya sebab tertiup angin. Sabar dan bertahan sudah tentu menjadi jimat yang selalu aku genggam kemanapun aku pergi. Entah saat denganmu ataupun tak sedang denganmu. Aku terus mencoba untuk menikmati keadaan ini. Menikmati mencintaimu, dengan caraku sendiri, dengan lebih dalam lagi, dan terus sampai entah sejauh mana aku bi...

Apa Kamu (Masih) Merindukanku?

Untuk kamu yang aku sayang. Sayang, Apa kamu suka diam-diam memikirkanku? Mengingat-ingat kekonyolan yang aku perbuat padamu. Sayang, Apa kamu masih suka senyam-senyum ketika aku melemparkan lawakan-lawakan kecil di sela obrolan kita di WhatsApp? Sayang, Apa kamu masih sering gemetar dan malu-malu ketika kamu mencoba mengenggam erat tanganku di keramaian? Sayang, Apa degup jantungmu sekarang masih sama seperti awal kisah kita dahulu? Sayang, Apa kamu (masih) merindukanku?

Kado Ulang Tahun

Dear Selviana (@selvyva) Selamat tanggal delapan. Hari ini hari bahagiamu. Genap dua puluh dua tahun sudah Ibumu melahirkan anak gadis sebaik kamu, sahabatku sekaligus kawan seperjuangan semasa kuliah. Seingatku, kita dulu belum sedekat ini, tapi menjadi terbiasa karena saling tegur sapa di antara kita, yang menjadikan kita berkawan hingga saat ini. Kurang lebih empat tahun yang lalu. Awalnya kita hanya sering berpapasan tanpa tahu siapa namamu. Hingga kita berkenalan lewat salah satu teman sekelasku yang masih satu kota denganmu. Tanggal lahir kita selisih delapan belas hari. Dengan menjunjung zodiak yang sama, kita bisa saling mengerti bagaimana sifat masing-masing walaupun tak jarang juga kita berselisih paham karena persamaan sifat tadi. Terlepas dari semua itu, aku menyayangimu layaknya saudara sendiri. Sudah sejak lama, entah sudah berapa bulan aku tak menyambangi kosmu hingga kutulis surat kedelapan ini, yang kujadikan kado kecil ulang tahunmu. Sel...

Teruntuk H, Semoga Bahagia

Kepada H, sepupuku.. Selamat untuk hari ini, hari di mana pernikahanmu sedang dilangsungkan. Entah kamu bahagia atau tidak, entah ayah, adik lelaki, dan juga adik perempuanmu. Dengan selisih usia empat tahun, mungkin aku tidak terlalu bisa dekat denganmu untuk sekedar memahami jalan pikiranmu, membaur dengan teman-teman sebayamu, dan hal lainnya. Aku pikir, kepalamu terlalu keras melebihi batu. Terkadang hatimu juga ikut-ikutan. Hingga ayah dan kedua adikmu lebih memilih diam dan mengalah hanya untuk membuatmu senang. Harapan demi harapan selalu terpanjat dari ucapan seorang yang mulia, ayahmu. Ayah yang setiap detik hidupnya tak pernah luput untuk mengingatkanmu menuju kehidupan yang lebih baik. Walau terkadang kamu sering mengabaikan beliau. Entah.. Entah sampai kapan dirimu begini. Sebagai seorang yang tidak terlalu penting buatmu, aku hanya bisa berharap. Berharap kapan kepalamu dihujani air hingga mengalir ke matamu, lalu hatimu menyaksikan betap...

Sepatu Karet Coklat Tua

Ah, entah sudah berapa lama aku menyukaimu. Semenjak kemunculanmu beberapa tahun yang lalu. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Aku membelimu pertama kali lewat perantara temanku. Aku suka dengan warnamu, coklat tua. Warna yang netral jika dipadukan dengan berbagai jenis model baju. Hampir setiap waktu jika akan bepergian, tak lupa aku memakaikanmu di kedua kakiku. Model yang simpel dengan warna polos dan tidak terkesan norak. Aku jatuh cinta padamu. Hingga kemudian aku ingin memberimu kawan agar kamu tidak jenuh. Sekitar akhir tahun 2012, aku berkesempatan untuk bekerja di Bandung. Waktu itu aku bertemu dengan kawan-kawanmu. Coklat krem, biru dongker, dan merah fanta. Kubeli mereka dalam satu waktu. Aku pun mencintai mereka. Seiring berjalannya waktu, dengan segala sibuk yang aku rengkuh, aku mulai kehilanganmu. Entah kemana dirimu pergi. Hingga akhirnya tergantikan oleh sosok mereka bertiga. Semakin hari, entah mengapa sosok mereka mulai membosankan. Jika kupadukan de...

Surat Cinta Untuk Aam

"Hai." "Apa kabar, Am?" Mungkin terdengar lucu sapaan yang baru saja aku tulis. Aku terlalu gugup mengungkapkan segala rasa bahagia ini. Sudah sejak lama menantikan saat-saat di mana aku bisa dengan sangat leluasa menuliskan beberapa kalimat yang sepertinya sedikit kaku untuk dibaca ataupun didengar olehmu. Entah sejak kapan aku mengagumi sosok menawan yang kutulis ini. Arham Arsalan, begitu namanya. Lelaki yang menurutku begitu lucu dengan caranya sendiri. Menggoda dengan tulisan-tulisan yang membuatku terpingkal-pingkal. "Ah, lucu sekali lelaki ini." Gumamku sambil memandangi avatar twitter @arhamrsalan. Begitu menyenangkannya hampir di sela waktu yang kupunya, kusempatkan membaca kalimat-kalimat lucu yang kautulis. Walaupun aku tahu, aku hanya sebagian kecil pengagum rahasia dari berjuta-juta pengagummu di luar sana. Ingin rasanya, kubunuh jarak di antara kita lalu kita dipertemukan dalam satu tempat. Sekedar untuk berbincang-bi...

Kau

Kau, Gumaman di setiap doa-doa yang kupanjatkan pada Sang Maha Pengabul Doa-doa. Kau, Ketetapan Tuhan yang diriwayatkan untukku. Semoga kelak bisa kujaga Kau, Dengan seluruh keluh kesah dalam perjalananku.