Perihal Datang, Pergi, Dan Kembali (Bag. 1)
"Aku malu."
Nadiku mendadak bergetar tatkala mendengar kalimat yang terlontar dengan lantangnya dari mulut seorang Ibu. Ibu dari calon suamiku, Bima. Tangan dan seluruh tubuhku pun tak luput dari gemetar.
Aku ketahuan berselingkuh dengan seorang lelaki lain. Dia bernama Gusti. Lelaki mapan yang menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan ternama. Sudah hampir enam bulan hubungan terlarang ini terjalin di belakang Bima. Bima dan aku memang sedang menjalani hubungan jarak jauh, Jakarta - Solo. Kami akan menikah bulan depan. Namun semua hancur dalam sekejap karena kesalahan fatal yang aku buat sendiri.
***
Aku seorang anak tunggal dan juga yatim piatu. Kedua orang tuaku telah meninggal tujuh tahun yang lalu karena kecelakaan, saat aku berumur delapan belas tahun. Waktu itu aku sedang menjalani kuliah selama setahun dan aku pun sudah menjalin hubungan dengan lelaki bernama Bima. Seminggu sebelum meninggal, kedua orang tuaku berpesan kepada Bima agar menjagaku. Aku begitu terpukul ketika mengetahui kedua orang tuaku meninggal di saat aku masih belum tahu apa arti hidup yang sebenarnya. Aku masih butuh kasih sayang mereka, namun Tuhan lebih sayang kepada mereka. Lambat laun aku pun ikhlas menerimanya.
Aku tinggal dengan Bima beserta Ibu dan adik perempuan Bima satu-satunya. Mereka menerimaku dengan sangat baik. Mereka menyayangiku layaknya anak dan kakak kandungnya sendiri. Aku sangat bersyukur waktu itu.
Empat tahun berselang, aku pun lulus kuliah dengan gelar Sarjana Teknik. Aku sangat menyukai hal-hal berbau teknik terutama teknik sipil dalam bidang konstruksi bangunan. Dengan gelar yang aku dapat, aku sudah mempunyai modal yang cukup untuk bisa melamar ke perusahaan konstruksi ternama di Ibukota.
Tiga bulan kemudian, aku diterima kerja di salah satu perusahaan konstruksi ternama yang aku idam-idamkan saat masih kuliah. Aku sangat gembira, begitu juga Bima sekeluarga.
Bima sudah lebih dulu bekerja sejak kejadian yang merenggut nyawa kedua orang tuaku. Usia kami beda lima tahunan. Dia sosok pria bertanggung jawab dan penyayang. Namun akhir-akhir ini dia disibukkan oleh pekerjaan yang hampir menguras seluruh waktunya. Aku sedikit memaksakan diri agar selalu mengerti dan mendukung keadaan dia. Aku memang sangat haus oleh perhatian dan itu buruk. Hingga akhirnya aku menyerah pada keadaan dan memilih jalan lain yang harusnya tak aku lakukan. Selingkuh.
***
Aku tak sengaja bertemu Gusti dua tahun lalu di sebuah kedai kopi yang tak jauh dari kantorku. Dia teman SMA ku. Sejak pertemuan itu, kami saling berkomunikasi dan seringkali menyempatkan bertemu sepulang kerja. Tanpa terasa seiring berjalannya waktu, ada getar-getar yang berbeda di dada kami masing-masing. Kami sama-sama menyimpan rindu. Rindu yang sulit diungkapkan. Rindu yang hanya kami berdua saja yang bisa merasakannya.
"Fal, aku jatuh cinta kepadamu."
Gusti menyatakan perasaannya di sela-sela obrolan kami yang sedang seru-serunya.
Aku pun mendadak hilang ingatan, linglung, dan tak tahu harus menjawab apa.
"Gusti, kamu tahu kan posisiku?"
"Aku sudah bertunangan dan akan segera menikah tahun depan." Falla menjawab dengan setengah hati.
Raut mukanya seperti orang yang kehilangan arah. Falla mencintai Bima, tapi segenap rindunya akhir-akhir ini hanya berpusat pada Gusti, lelaki yang berada tepat di depan matanya saat itu. Dia berada pada posisi yang membingungkan.
"Tapi, Fal.. Aku menyayangimu, aku tak tahu harus bagaimana, aku sudah menahan perasaan ini sejak di bangku sekolah dulu." Pinta Gusti setengah memaksa.
Falla pun terdiam dan sesekali melempar pandangannya ke arah Gusti. Falla melihat ada sepercik ketulusan dari sosok seperti Gusti. Lima menit kemudian, Falla mengiyakan. Falla menerima cinta Gusti. Cinta terlarang yang mereka jalin di belakang Bima. Seperti kata petatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino.
***
Tiga bulan berlalu. Aku sangat menikmati hubunganku dengan Gusti tanpa rasa bersalah sedikitpun. Aku sering sekali pulang kerja sampai larut malam. Sampai akhirnya Ibu Bima curiga kepadaku.
Keesokan harinya, seperti biasanya, Aku, Ibu, dan juga adik Bima, Wulan, selalu menyempatkan untuk sarapan pagi bersama. Ibu bekerja sebagai guru di salah satu sekolah menengah atas di pinggiran kota Jakarta. Sedangkan Wulan, masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sepeninggal kedua orang tuanya, Falla memang tinggal bersama Ibu dan adik Bima.
Pagi ini Falla berniat ijin untuk pindah ke apartemen yang sudah disediakan kantor tempat Falla bekerja. Karena pekerjaan Falla yang semakin menumpuk setiap harinya.
"Falla, kenapa akhir-akhir ini sering pulang larut sekali?" Tanya Ibu dengan lembut.
"Maaf Ibu, kerjaan Falla sedang banyak-banyaknya, karena engineer banyak yang ditempatkan di luar kota, sehingga pekerjaan yang di kantor dibagi-bagi, dan Falla juga kena imbasnya."
"Ndilalah, Falla dapat jatah untuk mengerjakan tujuh proyek, Bu." Jelas Falla panjang lebar.
"Benar begitu?" Tanya Ibu mendesak.
"I..iya Bu." Jawab Falla terbata-bata.
"Oh.. Yasudah Fal, tidak apa-apa."
"Ibu mengerti kok." Jawab Ibu tanpa ragu.
"Yasudah Bu, Wul, Falla berangkat ke kantor dulu ya."
"Mungkin sehabis maghrib Falla baru pulang mengambil barang-barang untuk dipindahkan ke apartemen kantor."
Falla pun bergegas menuju garasi dan berlalu dengan motor matik kesayangannya.
***
"Sayangku, Falla Prajodianata, kerjaanku sedang padat."
"Untuk beberapa hari kedepan mungkin aku tidak bisa sering menelponmu. Tapi aku janji, kalau kerjaanku sudah selesai, aku akan segera pulang ke Jakarta."
"Kamu gak apa-apa kan?"
Pinta Bima seraya memohon kepada Falla lewat telepon.
"Iya, yasudah mau gimana lagi."
"Aku sudah biasa seperti ini, mengalah untuk berbagi waktu dengan seluruh kerjaanmu di sana."
Falla menghela napas.
"Ga gitu, ini kan juga demi masa depan kita."
"Kita sudah bukan anak kecil lagi lho."
"Nanti kalau kita sudah menikah, aku akan mengajukan diri untuk dipindah tugaskan ke Jakarta."
"Biar dekat sama istri tercinta." Hehehe.
Bima tertawa dengan tawa khasnya.
"Yaudah kalau begitu."
"Selamat bekerja ya, sayang."
"Aku sayang kamu"
Falla buru-buru menutup telepon dari Bima.
Bima terheran-heran. Tak biasanya Falla seperti ini. Ada yang disembunyikan Falla dari Bima.
***
Seminggu pun berlalu.
Hari ini tepat satu bulan sebelum resepsi pernikahan Bima dan Falla diselenggarakan.
Bima datang dari Solo untuk mempersiapkan segala urusan pernikahan yang sudah hampir delapan puluh persen selesai. Bima pulang ke Jakarta diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu, Wulan, dan tentunya Falla.
Bima ingin membuat kejutan untuk Falla.
***
Pukul 19.13 WIB
Sesampainya di stasiun, Bima tak lekas pulang ke rumah. Dia menyempatkan diri mampir ke salah satu kedai kopi di seberang stasiun, sejenak melepas lelah setelah perjalanan dari Solo.
Bima mengambil tempat di ujung kedai di samping jendela kaca. Bima memilih tempat duduk yang tepat, karena ia bisa dengan leluasa melihat orang-orang di sekelilingnya.
Bima menghela nafas lalu menyalakan sebatang rokok yang diambilnya dari saku celana panjangnya. Ia pun menyeruput kopi yang sudah dipesannya sekitar lima belas menit yang lalu.
Bima terkejut bukan main dengan adegan yang baru saja ia lihat. Perempuan yang harusnya sudah ada di rumah, menunggu kedatangan calon suami dari luar kota, sekarang sedang berada sekitar sepuluh meter didepannya, sedang bercumbu mesra dan berbagi peluk dengan lelaki lain. Senjata makan tuan. Kejutan manis yang seharusnya didapat Falla malah berbalik pada dirinya dan menjadi sebuah kejutan pahit. Sepahit kopi yang baru saja ia sesap.
[Bersambung]...
[Bersambung]...
Komentar
Posting Komentar