Aku (Sudah) Terbiasa

Sudah terlalu sering aku dipandang sebelah mata olehmu. Olehmu yang menganggapku terkadang ada terkadang tidak namun lebih sering mengganggapku tak pernah ada. Aku tak lebih dari sebuah bayang semu yang kauperbudakkan bersama ego kesayanganmu.

Sudah terlalu banyak cercaan tentangmu di belakang dan di depanku yang terdengar di telingaku. Aku bertahan dan mencoba menahan isak dalam dada yang sebenarnya sudah tak kuat lagi untuk ditahan-tahan. Aku masih dan selalu menutupinya dengan senyum palsuku.

Aku selalu berusaha memantaskan diri agar selalu bisa tampil sempurna di hadapanmu walaupun dengan rasa terpaksa sekalipun. Aku ingin mengimbangimu. Aku ingin kamu senang dan bangga kepadaku walaupun sebenarnya itu menyiksaku.

Entah sudah luka keberapa yang kamu goreskan dan luka yang sengaja aku gores sendiri pada dinding hatiku demi seutas senyum di sudut bibirmu.

Aku mencintaimu dengan segala luka di hatiku dan hatimu. Aku biarkan diri ini tenggelam di dasar masa lalu yang tanpa sengaja selalu kamu banggakan di hadapanku.

Aku mengerti atas ketidakmengertianmu kepadaku.
Aku begitu memahami segala salah paham yang kamu ciptakan oleh egomu sendiri terhadapku.

Kubiarkan rindu ini meledak-ledak hebat walaupun rasa rindumu tak pernah hadir kepadaku.

Kurelakan tubuh ini haus akan sebuah pelukan hangat darimu, bahkan kecup mesra di bibirku di tiap harinya. Lagi lagi semua demi kamu.

Aku lebih mirip seorang pengkhayal tingkat tinggi. Mengkhayalkan sebuah kebun di dasar hatimu yang kutanami dengan berbagai macam bunga indah di dalamnya dan kamu sebagai tukang kebunnya lalu kita tuai bersama. Tapi ternyata hanya sia-sia yang aku terima.

Sudah teramat banyak kekecewaan yang kamu ciptakan di dasar hatiku dan aku memang sudah terbiasa.

Dan aku tetap mencintaimu..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta Untuk Aam

Apa Pedulimu?

Apa Kamu (Masih) Merindukanku?