Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2013

Perihal Datang, Pergi, Dan Kembali (Bag. 1)

"Aku malu." Nadiku mendadak bergetar tatkala mendengar kalimat yang terlontar dengan lantangnya dari mulut seorang Ibu. Ibu dari calon suamiku, Bima. Tangan dan seluruh tubuhku pun tak luput dari gemetar. Aku ketahuan berselingkuh dengan seorang lelaki lain. Dia bernama Gusti. Lelaki mapan yang menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan ternama. Sudah hampir enam bulan hubungan terlarang ini terjalin di belakang Bima. Bima dan aku memang sedang menjalani hubungan jarak jauh, Jakarta - Solo. Kami akan menikah bulan depan. Namun semua hancur dalam sekejap karena kesalahan fatal yang aku buat sendiri. *** Aku seorang anak tunggal dan juga yatim piatu. Kedua orang tuaku telah meninggal tujuh tahun yang lalu karena kecelakaan, saat aku berumur delapan belas tahun. Waktu itu aku sedang menjalani kuliah selama setahun dan aku pun sudah menjalin hubungan dengan lelaki bernama Bima. Seminggu sebelum meninggal, kedua orang tuaku berpesan kepada Bima agar menjagaku...

Terbata

Terbata Ku bisu akan kata-kata Mata seraya buta Kau bagai sebuah kata Yang kurangkai sambil terbata-bata Memejam lalu membutakan mata Padang ilalang Kupetik pada sebuah ladang Lepas dan berlalu bersama kenangan Kau ini serupa ladang Yang kutanami alang-alang Mati lalu terkenang Mataku nyalang Tersesat bersama kata-kata

Aku dan Maaf-maafku

Maaf Untukmu yang terlalu banyak kusebut di setiap doa hari-hariku Untukmu yang selalu hadir di seluruh laci pikiranku Untukmu yang suka datang bersama rindu di dadaku Untukmu yang seringkali jadi alasan di tiap hujan mataku Untukmu yang datang dalam damai di tiap mimpi-mimpiku Untukmu yang hinggap sejenak, pergi, lalu kembali dalam hidupku Ijinkan aku untuk bertahan, Untukmu Tertanda, Aku, beserta maaf-maafku

Aku (Sudah) Terbiasa

Sudah terlalu sering aku dipandang sebelah mata olehmu. Olehmu yang menganggapku terkadang ada terkadang tidak namun lebih sering mengganggapku tak pernah ada. Aku tak lebih dari sebuah bayang semu yang kauperbudakkan bersama ego kesayanganmu. Sudah terlalu banyak cercaan tentangmu di belakang dan di depanku yang terdengar di telingaku. Aku bertahan dan mencoba menahan isak dalam dada yang sebenarnya sudah tak kuat lagi untuk ditahan-tahan. Aku masih dan selalu menutupinya dengan senyum palsuku. Aku selalu berusaha memantaskan diri agar selalu bisa tampil sempurna di hadapanmu walaupun dengan rasa terpaksa sekalipun. Aku ingin mengimbangimu. Aku ingin kamu senang dan bangga kepadaku walaupun sebenarnya itu menyiksaku. Entah sudah luka keberapa yang kamu goreskan dan luka yang sengaja aku gores sendiri pada dinding hatiku demi seutas senyum di sudut bibirmu. Aku mencintaimu dengan segala luka di hatiku dan hatimu. Aku biarkan diri ini tenggelam di dasar masa lalu yang t...

Maaf

Maaf Untuk awal pertemuan kita yang menyisakan pahit dalam dadamu Maaf Untuk kecewa atas kehadiranku yang tak kauduga sebelumnya Maaf Untuk enggan yang sengaja kausembunyikan di balik matamu Maaf Untuk keterpaksaan yang kauhadirkan di tiapku Maaf Untuk rasa yang seharusnya kusembunyikan tapi menguap begitu saja Maaf Untuk tangisan yang selalu kuteteskan di depanmu Maaf Untuk cemburu yang berkelakar di ujung syaraf perasaanku Maaf Untuk rindu yang terpaksa kutelan bulat-bulat akan ketidakrinduanmu Maaf Untuk sayang yang kulimpahkan terlalu banyak buatmu Maaf Untuk cinta yang kulipatgandakan demi egoku memilikimu Maaf Untuk segala rasa yang terpendam ini Maaf Untuk segala maaf yang kutuangkan dalam kisah ini Maafkan aku Dan aku pun memaafkanmu

Kau bilang

Kau bilang Aku ini butiran pilu yang mengendap di sela-sela nadimu Mengalir bersama aliran darah di setiap akar syaraf rongga tubuh Berpacu dengan deru nafas yang selalu kau hembuskan Kau lalu bilang Aku bagai nyanyian usang yang terkurung dalam jurang pikiranmu Berirama layaknya elegi masa lalu Lalu kaudiamkan membusuk dihinggapi rayap Kau juga bilang Aku seperti macetnya ibukota yang meracau di setiap pagimu Lalu kau muak dan ingin pergi dari sana Hingga akhirnya kau benar-benar pergi dan menciptakan sebuah bias yang mengeras di dasar hatimu Bias itu aku Bias yang bersemayam lalu menjadi bangkai di kepalamu