Embun

Duhai embun yang bergelayutan di mataku
Bukankah engkau lebih senang menghinggapi daun
Daun hijau yang bersentuhan dengan tetesan teman-temanmu
Menciptakan perayaan Nona Mentari dan Tuan Pagi

Namun kali ini embun sedang kesal
Ia memarahiku habis-habisan
Dipenuhinya dadaku dengan urat-urat amarahnya
Hujan pun membasahiku tak terelakkan

Rasanya aku ingin memukul embun
Lalu mengiris tubuhnya menjadi butiran-butiran air tak berguna

Dasar embun yang tak punya hati
Sukanya memaki tak tahu diri
Lihat saja apa yang akan kuperbuat nanti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta Untuk Aam

Apa Pedulimu?

Apa Kamu (Masih) Merindukanku?