Cinta Yang Bodoh
Aku pernah berada pada posisi mencintai. Satu-satunya yang rela disakiti, dijatuhkan, disia-siakan, dan entahlah apapun itu yang aku rasa hanya aku sendirian di dalamnya. Aku mungkin terlalu mengelukan apa itu yang dinamakan cinta. Perihal cinta yang seharusnya dihadapi dan dirasakan oleh dua hati. Namun, aku di sini hanya sendiri, membuat cinta itu terasa nyata seperti dua hati yang saling mengasihi. Aku sadar bahwa aku terlalu yakin pada cinta. Aku mencintainya. Iya, itu memang benar dan saking cintanya, aku sampai lupa untuk mengenal diriku sendiri. Dia yang aku banggakan dengan segala sempurna yang dia miliki.
Aku seperti mencabik-cabik dadaku sendiri hingga nyeri. Nyeri yang aku sendiri sampai tak tahu bagaimana rasanya. Aku menciptakan hujan yang amat deras lalu kujatuhkan dengan keterpaksaan di pipiku. Aku sampai tak memedulikan sekitarku karena yang aku tahu hanya dirinya, satu-satunya di hidupku. Dia seakan memenjarakanku dengan cinta palsu yang entah sudah berapa lama sengaja dia rencanakan. Aku pun tak pernah berpikir untuk melabuhkan hati kepada yang lainnya karena aku percaya hanya dialah yang sempurna, di mataku saat itu.
Hingga aku sendiri pun heran dengan hati ini yang masih saja bertahan dengan keadaan yang seharusnya sudah ku akhiri sedari awal, tapi aku terlalu mencintainya. Mencintai dengan sisa-sisa perasaan bangga saat awal kami menjalin sebuah cinta. Cinta yang akhirnya kini menjadi beban berat di masa tuaku.
Aku memang bodoh.
Komentar
Posting Komentar