Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2013

Jalang : Lajang

Bosan sudah sering lalu lalang menjalar di pikiranku Membentuk aksara-aksara yang kurangkai menjadi huruf-huruf kesedihan Jenuh kian hari mengguratkan sayatan-sayatan luka di dinding batinku Rasa pada masa yang pernah indah dulunya kini mulai redup Jika saja kau mau tahu Bila kau maju selangkah lagi menujuku, sama saja kau membunuhku pelan-pelan Tertanda, Perempuan jalang yang ingin melajang

Embun

Duhai embun yang bergelayutan di mataku Bukankah engkau lebih senang menghinggapi daun Daun hijau yang bersentuhan dengan tetesan teman-temanmu Menciptakan perayaan Nona Mentari dan Tuan Pagi Namun kali ini embun sedang kesal Ia memarahiku habis-habisan Dipenuhinya dadaku dengan urat-urat amarahnya Hujan pun membasahiku tak terelakkan Rasanya aku ingin memukul embun Lalu mengiris tubuhnya menjadi butiran-butiran air tak berguna Dasar embun yang tak punya hati Sukanya memaki tak tahu diri Lihat saja apa yang akan kuperbuat nanti

Cinta Yang Bodoh

Aku pernah berada pada posisi mencintai. Satu-satunya yang rela disakiti, dijatuhkan, disia-siakan, dan entahlah apapun itu yang aku rasa hanya aku sendirian di dalamnya. Aku mungkin terlalu mengelukan apa itu yang dinamakan cinta. Perihal cinta yang seharusnya dihadapi dan dirasakan oleh dua hati. Namun, aku di sini hanya sendiri, membuat cinta itu terasa nyata seperti dua hati yang saling mengasihi. Aku sadar bahwa aku terlalu yakin pada cinta. Aku mencintainya. Iya, itu memang benar dan saking cintanya, aku sampai lupa untuk mengenal diriku sendiri. Dia yang aku banggakan dengan segala sempurna yang dia miliki.  Aku seperti mencabik-cabik dadaku sendiri hingga nyeri. Nyeri yang aku sendiri sampai tak tahu bagaimana rasanya. Aku menciptakan hujan yang amat deras lalu kujatuhkan dengan keterpaksaan di pipiku. Aku sampai tak memedulikan sekitarku karena yang aku tahu hanya dirinya, satu-satunya di hidupku. Dia seakan memenjarakanku dengan cinta palsu yang entah sudah berapa la...

Diam

Aku bagaikan sebuah lampu kota di jalanan Berdiam di jajaran keramaian Sendirian memainkan peran Hingar bingar kota tetap saja asing di kepalaku Mereka lebih mirip sepi yang abadi Dengan susah payah kuguratkan sebuah senyum paling manis di hidupku Tapi justru segala paksa hadir mengelilingi Aku memang payah Lelah dan juga kalah Badanku terlalu rapuh untuk bangkit Kuteriaki semua orang yang lalu lalang di hadapanku Kumaki semuanya tanpa terkecuali Aku seperti hitam dalam pejam Diam lalu bersemayam Kepada malam yang tak kunjung padam Diriku kini hanya bisa memberi salam Dengan berselimutkan kelam Lalu terlelap bersama suram

Sendu

Saat sendu berkeliaran Diri ini hanya bisa mengadu Melebur diri dalam dada Lalu sejenak merapalkan doa Anganku memelawa jauh Mengetuk awan mencari keberadaan Tuhan Gelegar rasa hadir di kepala Meracau hingga berantakan Kapan sendu ini akan berakhir?

Dikejar Rindu

Silau mentari memecah pagi Mengetuk pintu kecil bola mataku Mengusik rasa nyaman di atas pembaringan Aku terkesiap Ingatan kepala menyengaja hadir Memaksaku untuk kembali menyibaknya Ku tepis dengan segala takut Takut akan sebuah kerinduan yang tamak Kini rindu sudah berkuasa Keraguan pun membalutnya Ragu ini dirimu Yang seenaknya datang lalu pergi Kini kembali sesuka hati Meminta rindu yang sudah padam Aku tak ingin berbagi rindu Denganmu yang sudah mati Rinduku kini miliknya Takkan ku biarkan kau merebutnya Ujung rinduku kini nyeri memikul perih Tertahan waktu dan sesak menyelimuti Ku panggil hatimu yang kian jauh Dalam sekejap hilang ditelan mati

Matahari

Kepada musim di mana hangat berkuasa tak kenal lelah Diriku kini sedang hidup sebagai matahari Kekal sendiri di pagi hari Menyinari segala hal yang kusenangi pun kubenci Angin dan awan hanya lalu lalang silih berganti tanpa menemani Aku suka berkeliling menyusuri pagi Bermain sebentar dengan anak-anak angin di sekitarku Lalu pergi menuju siang di tengah hari Dan ku akhiri dengan menjemput bulan di ujung senja Kuhampiri bulan yang sedang cekikikan bersama seorang bernama bintang Aku cemburu kepada bulan Mengapa Ia selalu datang berdua Mereka suka berbagi canda tawa semalaman Beda denganku yang lebih banyak sendirian Tapi aku terlalu mencintai pagi Bulan dan bintang mudah berlalu begitu saja Kini kusambut kembali pagi kesayanganku Hanya Ia yang setia kepadaku

Hati yang Didustakan

Batin ini seperti sengaja menenggelamkanku Ke dalam riuh dusta yang telah kau ciptakan Dustamu sudah terlanjur mencanduiku Yang tiap detiknya kunikmati bersama sepi Tersiksa dengan segala langkah yang kulalui Aku berusaha duduk di tepian bayanganmu Tapi aku bagai duduk di atas duri Duri di sela-sela keraguan Kini aku ada di atas angin Mencari kehadiranmu yang tak kunjung ada Keluh kesah sudah jadi konsumsiku seharian ini Aku sudah ada di ujung dustamu

SELVIANA

Perempuanku, SELVIANA Di kala perjalananku menjemput kenangan Aku pun menuliskan kutipan tentangmu yang sengaja sudah kulekat kuat dalam sebuah ingatan manis Sinar pagi pukul tujuh mengendus dari balik pepohonan Elegi masa lalu tentangmu telah mengikat kuat dalam kepalaku Lalu lalang segala hati di perjalananku hanya bisa bersaksi bahwa kita adalah satu Venus sudah setuju dan berlalu dengan senyuman terindahnya Ijinkan aku mengucap sebuah doa dan janji kepadamu Aku bernafas dengan sisa-sisa udara dan menahan segala debar di dadaku  Namamu telah kusematkan di ujung musim yang kupunya Aku ingin kita menikah Salam, Yang Kamu Rindukan