Secangkir Kopi

Entah sudah berapa cangkir kopi yang kusesapi pagi ini
Kupaksa tubuhku menelan pahit manisnya kopi
Menyiksa diri merengkuh kedamaian
Ah.. Hidup memang melelahkan

Untuk hari yang berlalu
Musim yang berganti
Demi asa yang tak tergapai
Biarkan saja tangan ini merapalkan doa

Cangkir demi cangkir kini kutinggalkan
Kusimpan rapat dalam laci ingatan
Lalu hilang dimakan jaman

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta Untuk Aam

Apa Pedulimu?

Apa Kamu (Masih) Merindukanku?