Perempuan Sore
Baru kali ini aku melihat orang sebahagia itu dengan senja di depan matanya. Aku hanya terpaku, dengan segala heran yang kupunya.
Perempuan sore, aku menyebutnya demikian. Untuk pertama kalinya, aku bertemu dengannya dalam perjalanan menuju rumah orang tuaku. Perempuan itu duduk termenung di balik jendela salah satu ruangan di rumahnya. Ruangan itu ada di lantai dua.
Secara tak sengaja, ketika aku hendak ke rumah orang tuaku, aku mendapatinya melamun. Entah dia melamun karena memikirkan hal berat di dadanya atau hanya sekedar memandangi senja di depan matanya. Pandangan matanya mencuri perhatianku. Dari sekian perempuan yang aku jumpai di perjalananku selama ini, baru kali ini debaran aneh itu lahir di saat aku melihat matanya walaupun dari jauh. Aku ingin memanggilnya dengan alasan menanyakan alamat yang sedang kucari. Padahal sebenarnya aku penasaran dengan sosoknya.
"Mbak, permisi, mau menanyakan alamat. Apakah bisa ditunjukkan?" Tanyaku sambil mendongakkan kepala ke atas.
Walaupun sebenarnya tidak enak sudah membuyarkan lamunannya. Dia pun terkaget-kaget dan mencari keberadaan suaraku, namun dia tak menjawab apapun untuk sekedar membalas sapaanku. Dia buru-buru masuk ke dalam dan menutup rapat jendelanya.
"Aneh sekali perempuan itu." Pikirku dalam hati.
Aku terdiam heran dengan sikapnya. Aku pun segera berlalu menuju alamat yang sebenarnya sudah kuketahui sebelumnya.
Sesampainya di rumah orang tuaku, dengan segala daya yang masih tersisa, aku segera mencium tangan Bapak dan Ibu seraya memberikan buah tangan yang sengaja aku beli dari kota tempatku bekerja. Rasa heran masih melekat di pikiranku tentang sosok di balik jendela, siapa gerangan perempuan aneh itu.
Saat makan malam tiba, kami berkumpul di meja makan. Aku pun iseng menanyakannya kepada ibu tentang perempuan itu. Perempuan itu bernama Damai Dewanti. Orang di sekitar sering memanggilnya dengan nama Damai. Namun sayang, hidupnya tak seindah namanya. Dia hanya hidup berdua dengan pengasuhnya. Ibu bercerita, sudah kurang lebih setahun ini, Damai suka melamun di balik jendela kamarnya sepeninggal orang tuanya karena kecelakaan. Kecelakaan itu merenggut nyawa kedua orang tuanya saat sore menjelang waktu maghrib. Dan aku pun langsung menangkap apa yang baru saja diceritakan ibu, Itulah mengapa, dia suka melamun di saat sore begini. Dia memandangi senja. Dia berpikir bahwa senja lah yang merenggut segala kebahagiaannya.
* * *
Esok harinya, di waktu yang sama, saat senja mulai bergerak mengikuti terbenamnya matahari, aku berjalan-jalan sebentar di sekitaran kompleks rumah orang tuaku sambil menunggu kumandang Adzan Maghrib tiba. Aku pun mendapati Damai, perempuan aneh yang kulihat tempo hari, sedang duduk manis memandangi senja. Aku menghentikan langkahku dan sibuk memandanginya dari jarak sekitar dua puluhan meter. Aku tertegun memandanginya lalu bergumam dalam hati. "Aku jatuh cinta kepadanya." Tapi.. dengan sangat tiba-tiba ribuan tapi menyerangku. Aku hanya seorang pengagum, yang kagum akan ciptaan-Nya, Sang Maha Pembuat Kagum. Aku segera menepis harapan dalam dadaku, teringat dengan segala kesedihan yang dia tampakkan di depan senja. Ingin rasanya, menerbitkan senyum di bibirnya di kala senja, sekali saja.
* * *
Hari ini, hari terakhir aku menghabiskan waktu di rumah orang tuaku. Karena esok paginya, aku harus sudah berada di kantor dengan segala pening di kepala untuk kesekian kalinya. Waktu cutiku telah habis. Setelah selesai mengemasi barang-barang, aku pun berpamitan kepada kedua orang tuaku. Tak lupa aku meminta doa restu agar segala hal yang baik selalu menaungiku.
"Bapak, Ibu, Ardi pamit ya. Assalamualaikum."
"Iya, hati-hati ya kamu, Nak. Doa kami selalu menyertaimu. Wa'alaikumsalam." Jawab Bapak dan Ibu menenangkan. Aku pun berlalu.
Aku menyempatkan diri melewati rumah perempuan itu. Dua menit aku berjalan, sampailah aku di depan rumah yang kutuju. Ku dongakkan kepala ke atas, namun tak ku dapati seorangpun di sana. "Kemana gerangan perempuan itu?" Gumamku penasaran. Mengapa di saat aku akan beranjak pergi, dia malah menghilang. Aku mendadak cemas. Tapi waktu selalu mengejar tanpa ampun, jam di tangan sudah menunjuk angka lima. Aku harus bergegas pergi menuju stasiun, pukul setengah tujuh keretaku berangkat. Tanpa basa basi, aku segera meninggalkan rumah itu dengan segala cemas yang masih melekat kuat di pikiranku.
Hari demi hari, bulan berganti bulan, kulewati dengan segala kesibukan di kantor. Aku tiba-tiba teringat lagi akan sosok perempuan di balik jendela. Aku masih ingat jelas akan mata sendu yang selalu dia lemparkan ke arah senja. Beberapa saat kemudian, ponselku berbunyi membuyarkan ingatanku. Ibu.
Aku kaget bukan main setelah mendengar kabar dari Ibu. Damai Dewanti, perempuan di balik jendela yang diam-diam aku kagumi, telah dipanggil oleh Yang Kuasa. Selama satu bulan terakhir, badannya melemah, karena depresi akut yang dideritanya. Ingatan akan kedua orang tuanya di kala senja telah menggerogotinya.
Aku terkulai lemas. Kaki teramat berat untuk menopang tubuhku. Belum sempat kumengenalnya lebih jauh, tapi dia sudah lebih dulu dipanggil oleh-Nya. Tuhan mungkin lebih menyayanginya ketimbang aku, yang hanya dua kali tak sengaja mencuri pandangan matanya.
Sejenak aku terdiam. Kutengadahkan kedua tangan, kukirimkan sebuah doa untuk Damai dari jauh. Aku menarik nafas panjang.
Damai, tidurlah dengan tenang dalam damai serupa indah namamu. Kelak kau akan bertemu dengan yang selama ini kau risaukan. Mereka kedua orang tuamu yang selama ini kau panggil di kala senja. Semoga kau bahagia di sana. Dan satu hal yang aku yakini, kau pergi dengan senyum yang mendamaikan seluruh orang di negeri ini. Aku mencintaimu.
Harapannya hanya satu, senja mengembalikan kedua orang tua dan kebahagiaannya. Dan Sang Maha Pembuat Kagum pun mengabulkannya.

Pict: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAqUBlAwpHZZYHz4ZNBRTF-bOzEstK2tgH8Y9E9-RJImY-DaGgdh5WGPdjaQCRBNJk2kB6Y_jq62vBbuIPgexRAH5WrLa_4-4PmLZaZ1Its66BkZwCkz5cPN6yqKh6IKt3oIUgiwRA3nAS/s1600/download%252520%2525284%252529_Karen.jpg
Komentar
Posting Komentar