Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2013

Hati yang Berduka

Teruntuk hati yang sedang mendukakan dirinya Ku hantarkan segala duka pada masa yang paling sedih Berhias hujan yang jatuh dengan ketidakharmonisannya Dengan segala letupan-letupan bernama emosi Dan lihatlah di ujung penantianmu kelak, kan kau dapati hati yang lara penuh dengan sesal Lalu.. Cukup diam dan nikmatilah.. Itulah rasanya ketika duka menghampiri

Sembilan Belas

Pada sembilan belas aku membuat hari Diam memejam merapalkan doa Kuminta segala-gala yang baik Meramaikan apa yang sudah sepi Mengisi apa yang baru saja kosong Menggenapkan apa yang ganjil Aku detikmu Dan kamu menitku Kita bersatu dalam satuan waktu Kita adalah potongan-potongan episode Yang disatukan Tuhan menjadi sebuah cerita di balik genggaman-Nya Pada sembilan belas aku menanti Berharap kelak kita kan selalu ada Di sebuah masa di mana kita menempuh jalan yang sama Hingga menua dan memejamkan mata Kepada sembilan belas Aku Mencintaimu dan Dicintaimu. Selamat tanggal sembilan belas ♥ Salam, Episode-episode Masa Depanmu

OLIVIA

Teruntuk OLIVIA Perempuan manis dengan hijab warna terang kesukaannya Dua tulisan telah kusemat kuat di sela-sela jemari tangan kanan dan kirimu Oranye senja kali ini sejenak membuka laci ingatan di kepala Laci ingatan yang sudah kutamatkan demi riang masa depanku Indah cinta sempat kita semai bersama rindu di ujung perih Virus perih yang dulu pernah mati, kini hadir bersama pelangi Impian indah kala itu bisa kita rengkuh kembali bersama semesta Aku hanya sekedar ingin memelukmu.. Lagi dan lagi.. Orkestra hati sudah berulang kali kita perdengarkan seharian ini Lelap malam mengemis untuk segera dilabuhkan Irisan mimpi mulai meriuh dalam kepala Volume suara hewan malam semakin meninggi, lalu menghilang Irama malam kian membenamkan dirinya Aku rasa ini sudah waktunya kita bangun dari lelap semalam Salam, Yang terlanjur mencintaimu

Jauh

Aku sudah mulai bosan dengan segala iya yang kau tawarkan Entah sudah berapa sabar dan rela yang aku beri Kini aku hanya mampu menuliskan namamu di air Dan berharap hujan menghanyutkannya Jauh

Perempuan Sore

Gambar
Baru kali ini aku melihat orang sebahagia itu dengan senja di depan matanya. Aku hanya terpaku, dengan segala heran yang kupunya. Perempuan sore, aku menyebutnya demikian. Untuk pertama kalinya, aku bertemu dengannya dalam perjalanan menuju rumah orang tuaku. Perempuan itu duduk termenung di balik jendela salah satu ruangan di rumahnya. Ruangan itu ada di lantai dua. Secara tak sengaja, ketika aku hendak ke rumah orang tuaku, aku mendapatinya melamun. Entah dia melamun karena memikirkan hal berat di dadanya atau hanya sekedar memandangi senja di depan matanya. Pandangan matanya mencuri perhatianku. Dari sekian perempuan yang aku jumpai di perjalananku selama ini, baru kali ini debaran aneh itu lahir di saat aku melihat matanya walaupun dari jauh. Aku ingin memanggilnya dengan alasan menanyakan alamat yang sedang kucari. Padahal sebenarnya aku penasaran dengan sosoknya. "Mbak, permisi, mau menanyakan alamat. Apakah bisa ditunjukkan?" Tanyaku sambil mendongakkan kepa...

Secangkir Kopi

Entah sudah berapa cangkir kopi yang kusesapi pagi ini Kupaksa tubuhku menelan pahit manisnya kopi Menyiksa diri merengkuh kedamaian Ah.. Hidup memang melelahkan Untuk hari yang berlalu Musim yang berganti Demi asa yang tak tergapai Biarkan saja tangan ini merapalkan doa Cangkir demi cangkir kini kutinggalkan Kusimpan rapat dalam laci ingatan Lalu hilang dimakan jaman

Ego

Kalau saja kau mau sedikit peka Dadaku tak mungkin sesesak ini Hati tak akan serapuh ini Membuncah di kepala Entah ego yang mana lagi ini Menjadi dinding pembatas dalam diri Mengunci rapat mulutku Menghentikan derap langkah Segala kopi sudah kusesapi Dengan semua rasa di semua musim Sepotong rindu menyengaja hadir Lalu kubiarkan mati dalam pelukan Hanya sekedar untuk menghancurkan gengsi

Sore

Segala angin yang meniupkan kebahagiaan Selewat senja yang menggetarkan lamunan Demi sore yang aku kagumi Aku bersumpah dalam hening Mengurai rasa di bawah Sang Maha Jingga

Jika

Begitu banyak jika yang lalu lalang di telinga Yang sudah entah berapa ratus kali kau perdengarkan Aku bosan dengan keterjikaanmu Dan aku sudah lelah membicarakan banyak jika di antara kita Bila pada akhirnya, jika itu sendiri yang akan membunuh kita

Kurang Apalagi Kita Ini?

Ketika pagi merindukan senyuman Mentari lah pemilik senyum terindah itu Begitu pun malam yang merindukan canda tawa Bulan dan bintang lah pemenangnya Suara nyaring terdengar dari balik senja Riuhnya memenuhi rongga telinga Mengusik nadiku yang masih berdenyut mesra Mesra seperti Desember dan hujan Di saat yang sama, aku tak ingin melewatkan pelangi di ujung senja Menantimu di depan pintu Memelukmu seusai kesibukan mendera Mengecup di tiap sebelum dan sesudah lelap memayungi kita Aku ingin mendekapmu setiap hari Sepanjang musim dan selama bulan yang kita lalui Tertawa dengan damai Mengusir kegundahan dalam hati Tetiba manja matamu memecah keheningan Menggoda, membuyarkan lamunan. Menarik bibir menggenggam tangan Hangat penuh rayuan Rayuan manis membius bilik-bilik hati Memulas senyum penuh bahagia Peluh menetes tanpa keluh Bahagia kita tergambar jelas Kurang apalagi kita ini?

Kepalan Rindu

Aku masih saja duduk terdiam Memandangi senja yang kini telah berganti malam Pikiranku sekejap menyelam Memberi salam pada ruang-ruang kosong di relungku Aku tersesat di dalamnya Dihimpit rindu dari berbagai penjuru Mengunci rapat kaki Mematikan hati Rindumu begitu teganya menjamahiku Melesakkan peluru terkuatnya Menusuk jantung Sesaat ku terdiam Merenung, meratapi yang telah terjadi Aku perlahan lupa Ku coba merogoh sebagian rindu yang tersisa dalam saku perasaanku Rindumu ternyata tinggal segenggam Lalu ku buat menjadi kepalan Kepalan ini siap untuk meninjumu Bersiaplah!

Rindu

Rindu ini telah lama kubiarkan memejam Meluruh bersama hujan dalam dada Aku merindu dengan sangat menggebu Kuhidupkan lagi rindu yang sudah lama usang dimakan jaman Detik-detik bersamamu sedang kurangkai dalam kepala Membuai lepas ingatan indah di hari kemarin Rindu ini serupa balon gas Yang kutiupi hingga pipiku memerah Lalu pecah begitu saja di udara Dan aku pun girang dibuatnya Aku rindu Saking rindunya aku ingin menggenggam mendung Lalu ku jatuhkan ke tanah hatimu yang sudah lama mengeras bersama ketidakrinduanmu Aku rindu berkali-kali, tak cuma sekali Dan hanya pada satu titik aku tertuju Berkacalah, dan kau akan tahu siapa yang aku rindukan Sudah terlalu banyak rindu yang kumuntahkan Tak kuat menahan beban rindu yang teramat lama tak kauhiraukan Kubiarkan saja rindu ini terlelap lalu pecah dalam mimpimu Semoga kautemui aku di sana Dan kita bisa saling memeluk rindu hingga esok menjelang