Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2013

Hunjaman Pagi

Hawa dingin menyusup masuk Gelitik kecil menari-nari Rongga hidung menjadi penuh dengan udara Oh.. Sembilan belas derajat celcius rupanya Pagi sudah mulai ramai Ramai dengan segala teriakan dan riuhan yang datang menghunjam Dan aku pun masih terhanyut dalam lamunan Hunjaman pagi menyadarkanku Aku terbelalak Menyaksikan segala kenangan yang telah meraksasa di benakku Aku mencoba enyah Pikiranku semakin berkuasa Paku kepahitan menancap kuat di dinding hatiku Bayangmu mengunci setiap sudut ruang dimana aku bergerak Aku meronta-ronta Aku coba memejam Namun tak membantu Aku terkoyak dan mengepul seperti asap Lepas lalu terhempas

Terlanjur

Keterlanjuranku mencintaimu Membunuh dada sebelah kananku Mataku penuh dengan tetesan sayang Aku terpelanting Tanpa terasa aku pun menyiksa diri Memenuhi rongga batinku dengan segala teriakan Aku ingin melemparkan diri ke hadapanmu Menjadikanku pusat perhatianmu Dengan segala tenaga yang masih melekat di tubuhku Aku merangkak menuju tanah hatimu Aku pun terjatuh Aku sebenarnya rindu Rindu yang teramat sangat Tapi rindu itu tertelan hidup-hidup Lalu mati dalam kenangan Aku merelakanmu

Musim

Sepoi angin membelai Hawa panas menyembul dari balik awan Berarak melintasi semesta Cair bersama hujan Berakhir dengan rimunan senja Musim pun berganti menjadi riuh yang hadir dari kerumunan burung di udara Menapaki sebagian surga yang ada dalam hingar bingar semesta Alam pun berbisik Berisik Namun sangat asyik Menelisik Menari-nari dengan apik Takut telah menyambut Segala carut marut pun menuntut Semakin ku larut dalam kalut Musim mulai berganti lagi Namun tanpa riuh Sepi lalu sunyi Dan senyap pun menyelinap dari dalam dadaku Bersama rangkaian asa dan segala ego Aku pergi..

Sembunyi

Aku ingin sembunyi Dari segala beban yang memberatkan Tapi tak semudah dengan apa yang dibayangkan Aku ingin sembunyi Di balik selimut yang hangat Lalu terlelap di dalamnya Aku ingin sembunyi Dari balik mata indahmu Yang memunculkan banyak tanya dari dalam kepalaku Aku ingin sembunyi Dari balik punggungmu Dengan genggaman erat yang cukup kuat, ku pun menarik baju belakangmu Aku ingin sembunyi Dari segala keramaian Yang riuhnya memecah segala rupa yang ada dalam angan Tapi.. Aku tak ingin sembunyi Dari semesta yang meluruh di pagi hari Yang menampilkan sejuta harapan nan gemilang, bagi hati yang temaram

Akulah Gerimis

Akulah gerimis Berwujud bulir-bulir Yang menunjamimu dengan hati-hati, namun menyakitkan Akulah gerimis Yang berubah jadi hujan Perlahan membanjiri tanah dimana engkau menancapkan kenangan masa silam Akulah gerimis Yang kecil dan penuh riuh, dikala keheningan dan sepi telah merajai tanah hatimu Akulah gerimis Yang nantinya akan selalu dirindukan pelangi Pelangi yang terjebak dalam damainya sang mentari

Pagi Merah Jambu

Pagi sendu mulai beradu Terlihat awan merah jambu sedang bercumbu Bersatu padu, mengucap syukur Mengalun indah dengan sangat akur

Siklus Rindu

Rindu datang dengan segala cara dan segala rasa Dengan cara yang sama saja ataupun berbeda Dan segala rasa yang mengalir begitu indahnya Begitu manis pun pahit akan tetap terasa Jika rindu itu berbalas dengan sendirinya, tanpa diminta