Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2013

Kesenanganku

Aku suka membuatmu tersenyum Membentuk senyum simpul terindah dari balik bibirmu Detak jantungku tak kuasa menahan geraknya, tiap ku lihat sinar kebahagiaan dari balik matamu Mata terindah yang tak pernah jemu aku pandangi Yang tak pernah sedetikpun aku lewatkan Memandangimu dengan baik adalah caraku bersyukur akan apa itu anugerah Tuhan Mungkin aku sudah mulai buta arah Karena apapun yang terjadi, aku hanya ingin berlari ke arahmu Mendekapmu di setiap pagi Mengecupmu di kala dinginnya malam Dan tak lupa belaianku di saat keraguan mulai muncul menujumu Kini.. telah ku sajikan hati yang sudah ku bungkus dengan kerinduan Lalu ku tali-pitakan dengan senyum terindahku Tak lupa ku balut dengan warna-warni balon kedamaian Dan ku bunyikan dengan alunan musik yang bernada kebahagiaan

Manusia (Tak) Sempurna

Kamu memang manusia sempurna Oh tidak.. tidak.. Kamu belum akan sempurna jika.. Jika belum ada aku di sampingmu Jika belum ada jemariku yang kau genggam di saat merindu Jika belum ada dekapanku yang menghangatkan punggungmu Jika belum ada kecupan hangat di kedua pipi lembutmu Jika belum ada aku di setiap hela nafasmu Sempurna itu tak bisa sendiri Sempurna tercipta jika ada pelengkapnya Dan pelengkap kamu itu aku Dan pelengkapku ya pasti kamu Aku dan Kamu Yang dulunya dipisahkan oleh jarak Kini telah bersatu dalam ruang bernama waktu Dan ternyata waktu lebih kejam daripada jarak Menunggu waktu itu menjemukan Tak seperti jarak, yang masih mau berbaik hati memberikan ruangnya kepadaku walaupun sekedar untuk bertegur sapa denganmu Ah tak apa.. Waktu memang menjengkelkan Sama menjengkelkannya dengan kamu Yang terkadang memberi semburat pilu di setiap inginku bertemu denganmu Tapi aku bersyukur Di setiap waktu ku, ada sos...

Aku. Kamu. Tuhan.

Untuk seseorang yang ada di hatiku saat ini Sayangku, Tahukah kamu mencintai dalam diam? Diam-diam aku mencintaimu Tahukah kamu mencintai dengan air mata? Dalam tangis, aku masih tetap mencintaimu Tahukah kamu mencintaimu dengan senyum? Aku mencintaimu, dengan tiap senyuman yang tergurat di bibirku Aku suka bahasan tentangmu Apalagi membicarakanmu dengan Tuhanku Bercengkrama dengan-Nya tentang apa saja yang berhubungan dengan kamu lewat doa Entah kenapa aku suka Aku suka memelukmu Tapi aku lebih suka cara Dia (Tuhan) memelukmu Coba sekarang tidurlah sayang dan rasakan bagaimana Dia memelukmu Karena di saat Dia memelukmu, itulah caraku merindukanmu Dan di situ pula terselip rasa bahagiaku memilikimu

Adu Nasib

Aku berjalan menyusuri hari-hariku Setapak demi setapak Ku biarkan kakiku menuntun kemana aku melangkah Entah menuju pagi, senja, malam, ataukah menujumu? Kita dipisahkan oleh sekat yang tak terlihat Namun hanya berjarak kepala dan leher Saling terikat waktu Aku dan Kamu mengadu nasib Bercanda dalam tawa Bergumul dengan kesetiaan Demi satu kesatuan Kita

Apa Pedulimu?

Apa pedulimu jika rasa yang indah itu datang tiba-tiba Kamu mau senang? Bahagia? Gembira? Tertawa? Atau justru sedih? Murung? Gelisah? Menangis? Apa pedulimu jika rasa yang indah itu telah jatuh ke relung hati paling dalam Kamu mau menampiknya? Menolaknya? Mengabaikannya? Hati sudah aku jatuhkan Kepada yang satu ini Satu-satunya dan tak ada dua Tapi.. apa pedulimu? Pada perasaan yang hanya aku saja yang merasakannya, hanya aku yang menikmatinya, dan kamu tidak Kamu tak peduli Kamu hanya bisa diam Diam sendiri seperti mati Mati bersama rasa Rasa ketidak-sukaanmu terhadapku

Hilang

Kalau saja hilang bisa aku lakukan dengan sekejap mata Sekarang, saat ini juga, aku ingin menghilang Menghilang dalam gelapnya malam Menghilang dari sorot matamu Dan terlihat dari seberang sana,  kau mengguratkan senyum picikmu Senyum senang dan girangmu setelah melihatku menghilang Kamu senang? Iya? Berbanggalah! Bahagialah! Tak akan ku sesali Tak akan ku tangisi Lagi Aku lebih nyaman begini Menghilang bersama malam Dibawa bintang Dibuai sang rembulan Diterbangkan elang Melayang-layang Sudahlah! Bersenang-senanglah sekarang! Tertawalah diatas sedih ku Menarilah diatas pedih ku Biarkan aku larut bersama senyum mu Senyum yang kelu merangkai semu

Biar Saja

Merindumu bisa saja aku lakukan dengan sepenuh hatiku Dengan setulus jiwaku dan seluruh ragaku Merindumu kapan saja ya terserah aku Mau lusa, mau besok, mau sekarang, mau kemarin, mau detik yang lalu ya itu terserah aku Jika suatu hari nanti rindu ini hilang.. Ya biar saja rindu ini hilang, musnah, lenyap entah kemana Biar saja bergumul bersama egoku dan juga egomu Berkelakar bersama emosi kita Biar saja.. Terserah.. Mau dibawa kemana ya itu cukup  menjadi urusanku dengan Tuhanku, bukan urusanmu Biar saja ini mengalir bersama hujan Berhembus bersama udara Menghilang disapu angin Biar saja Tak usah kau pedulikan