Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Menunggu Rindu

Demi malam di balik jendela Kutitipkan rindu yang entah berapa jumlahnya sudah berjubel ria dalam dada "Hati-hati ya." Pesanku kepada angin. Angin kemudian berlalu Membawa titipan rinduku "Baiklah, tunggulah di sini jangan kemana-mana." Pungkas angin Jam menari-nari bersama waktu Hingga detik jarumnya terhenti sendiri Kalender baru mendadak usang Rinduku tak kunjung datang Aku sejenak mundur ke belakang lalu pergi ke dapur Menyiapkan bahan-bahan yang kemudian kuracik bersama bumbu-bumbu Bumbu-bumbu itu bernama harapan Kutuang kedalam tungku lalu kuramu menjadi satu Harapan demi harapan sudah berkumpul Siap untuk kusajikan di meja perasaan Wahai rindu, kemari dan ciciplah..

Perihal Datang, Pergi, Dan Kembali (Bag. 1)

"Aku malu." Nadiku mendadak bergetar tatkala mendengar kalimat yang terlontar dengan lantangnya dari mulut seorang Ibu. Ibu dari calon suamiku, Bima. Tangan dan seluruh tubuhku pun tak luput dari gemetar. Aku ketahuan berselingkuh dengan seorang lelaki lain. Dia bernama Gusti. Lelaki mapan yang menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan ternama. Sudah hampir enam bulan hubungan terlarang ini terjalin di belakang Bima. Bima dan aku memang sedang menjalani hubungan jarak jauh, Jakarta - Solo. Kami akan menikah bulan depan. Namun semua hancur dalam sekejap karena kesalahan fatal yang aku buat sendiri. *** Aku seorang anak tunggal dan juga yatim piatu. Kedua orang tuaku telah meninggal tujuh tahun yang lalu karena kecelakaan, saat aku berumur delapan belas tahun. Waktu itu aku sedang menjalani kuliah selama setahun dan aku pun sudah menjalin hubungan dengan lelaki bernama Bima. Seminggu sebelum meninggal, kedua orang tuaku berpesan kepada Bima agar menjagaku...

Terbata

Terbata Ku bisu akan kata-kata Mata seraya buta Kau bagai sebuah kata Yang kurangkai sambil terbata-bata Memejam lalu membutakan mata Padang ilalang Kupetik pada sebuah ladang Lepas dan berlalu bersama kenangan Kau ini serupa ladang Yang kutanami alang-alang Mati lalu terkenang Mataku nyalang Tersesat bersama kata-kata

Aku dan Maaf-maafku

Maaf Untukmu yang terlalu banyak kusebut di setiap doa hari-hariku Untukmu yang selalu hadir di seluruh laci pikiranku Untukmu yang suka datang bersama rindu di dadaku Untukmu yang seringkali jadi alasan di tiap hujan mataku Untukmu yang datang dalam damai di tiap mimpi-mimpiku Untukmu yang hinggap sejenak, pergi, lalu kembali dalam hidupku Ijinkan aku untuk bertahan, Untukmu Tertanda, Aku, beserta maaf-maafku

Aku (Sudah) Terbiasa

Sudah terlalu sering aku dipandang sebelah mata olehmu. Olehmu yang menganggapku terkadang ada terkadang tidak namun lebih sering mengganggapku tak pernah ada. Aku tak lebih dari sebuah bayang semu yang kauperbudakkan bersama ego kesayanganmu. Sudah terlalu banyak cercaan tentangmu di belakang dan di depanku yang terdengar di telingaku. Aku bertahan dan mencoba menahan isak dalam dada yang sebenarnya sudah tak kuat lagi untuk ditahan-tahan. Aku masih dan selalu menutupinya dengan senyum palsuku. Aku selalu berusaha memantaskan diri agar selalu bisa tampil sempurna di hadapanmu walaupun dengan rasa terpaksa sekalipun. Aku ingin mengimbangimu. Aku ingin kamu senang dan bangga kepadaku walaupun sebenarnya itu menyiksaku. Entah sudah luka keberapa yang kamu goreskan dan luka yang sengaja aku gores sendiri pada dinding hatiku demi seutas senyum di sudut bibirmu. Aku mencintaimu dengan segala luka di hatiku dan hatimu. Aku biarkan diri ini tenggelam di dasar masa lalu yang t...

Maaf

Maaf Untuk awal pertemuan kita yang menyisakan pahit dalam dadamu Maaf Untuk kecewa atas kehadiranku yang tak kauduga sebelumnya Maaf Untuk enggan yang sengaja kausembunyikan di balik matamu Maaf Untuk keterpaksaan yang kauhadirkan di tiapku Maaf Untuk rasa yang seharusnya kusembunyikan tapi menguap begitu saja Maaf Untuk tangisan yang selalu kuteteskan di depanmu Maaf Untuk cemburu yang berkelakar di ujung syaraf perasaanku Maaf Untuk rindu yang terpaksa kutelan bulat-bulat akan ketidakrinduanmu Maaf Untuk sayang yang kulimpahkan terlalu banyak buatmu Maaf Untuk cinta yang kulipatgandakan demi egoku memilikimu Maaf Untuk segala rasa yang terpendam ini Maaf Untuk segala maaf yang kutuangkan dalam kisah ini Maafkan aku Dan aku pun memaafkanmu

Kau bilang

Kau bilang Aku ini butiran pilu yang mengendap di sela-sela nadimu Mengalir bersama aliran darah di setiap akar syaraf rongga tubuh Berpacu dengan deru nafas yang selalu kau hembuskan Kau lalu bilang Aku bagai nyanyian usang yang terkurung dalam jurang pikiranmu Berirama layaknya elegi masa lalu Lalu kaudiamkan membusuk dihinggapi rayap Kau juga bilang Aku seperti macetnya ibukota yang meracau di setiap pagimu Lalu kau muak dan ingin pergi dari sana Hingga akhirnya kau benar-benar pergi dan menciptakan sebuah bias yang mengeras di dasar hatimu Bias itu aku Bias yang bersemayam lalu menjadi bangkai di kepalamu

Jalang : Lajang

Bosan sudah sering lalu lalang menjalar di pikiranku Membentuk aksara-aksara yang kurangkai menjadi huruf-huruf kesedihan Jenuh kian hari mengguratkan sayatan-sayatan luka di dinding batinku Rasa pada masa yang pernah indah dulunya kini mulai redup Jika saja kau mau tahu Bila kau maju selangkah lagi menujuku, sama saja kau membunuhku pelan-pelan Tertanda, Perempuan jalang yang ingin melajang

Embun

Duhai embun yang bergelayutan di mataku Bukankah engkau lebih senang menghinggapi daun Daun hijau yang bersentuhan dengan tetesan teman-temanmu Menciptakan perayaan Nona Mentari dan Tuan Pagi Namun kali ini embun sedang kesal Ia memarahiku habis-habisan Dipenuhinya dadaku dengan urat-urat amarahnya Hujan pun membasahiku tak terelakkan Rasanya aku ingin memukul embun Lalu mengiris tubuhnya menjadi butiran-butiran air tak berguna Dasar embun yang tak punya hati Sukanya memaki tak tahu diri Lihat saja apa yang akan kuperbuat nanti

Cinta Yang Bodoh

Aku pernah berada pada posisi mencintai. Satu-satunya yang rela disakiti, dijatuhkan, disia-siakan, dan entahlah apapun itu yang aku rasa hanya aku sendirian di dalamnya. Aku mungkin terlalu mengelukan apa itu yang dinamakan cinta. Perihal cinta yang seharusnya dihadapi dan dirasakan oleh dua hati. Namun, aku di sini hanya sendiri, membuat cinta itu terasa nyata seperti dua hati yang saling mengasihi. Aku sadar bahwa aku terlalu yakin pada cinta. Aku mencintainya. Iya, itu memang benar dan saking cintanya, aku sampai lupa untuk mengenal diriku sendiri. Dia yang aku banggakan dengan segala sempurna yang dia miliki.  Aku seperti mencabik-cabik dadaku sendiri hingga nyeri. Nyeri yang aku sendiri sampai tak tahu bagaimana rasanya. Aku menciptakan hujan yang amat deras lalu kujatuhkan dengan keterpaksaan di pipiku. Aku sampai tak memedulikan sekitarku karena yang aku tahu hanya dirinya, satu-satunya di hidupku. Dia seakan memenjarakanku dengan cinta palsu yang entah sudah berapa la...

Diam

Aku bagaikan sebuah lampu kota di jalanan Berdiam di jajaran keramaian Sendirian memainkan peran Hingar bingar kota tetap saja asing di kepalaku Mereka lebih mirip sepi yang abadi Dengan susah payah kuguratkan sebuah senyum paling manis di hidupku Tapi justru segala paksa hadir mengelilingi Aku memang payah Lelah dan juga kalah Badanku terlalu rapuh untuk bangkit Kuteriaki semua orang yang lalu lalang di hadapanku Kumaki semuanya tanpa terkecuali Aku seperti hitam dalam pejam Diam lalu bersemayam Kepada malam yang tak kunjung padam Diriku kini hanya bisa memberi salam Dengan berselimutkan kelam Lalu terlelap bersama suram

Sendu

Saat sendu berkeliaran Diri ini hanya bisa mengadu Melebur diri dalam dada Lalu sejenak merapalkan doa Anganku memelawa jauh Mengetuk awan mencari keberadaan Tuhan Gelegar rasa hadir di kepala Meracau hingga berantakan Kapan sendu ini akan berakhir?

Dikejar Rindu

Silau mentari memecah pagi Mengetuk pintu kecil bola mataku Mengusik rasa nyaman di atas pembaringan Aku terkesiap Ingatan kepala menyengaja hadir Memaksaku untuk kembali menyibaknya Ku tepis dengan segala takut Takut akan sebuah kerinduan yang tamak Kini rindu sudah berkuasa Keraguan pun membalutnya Ragu ini dirimu Yang seenaknya datang lalu pergi Kini kembali sesuka hati Meminta rindu yang sudah padam Aku tak ingin berbagi rindu Denganmu yang sudah mati Rinduku kini miliknya Takkan ku biarkan kau merebutnya Ujung rinduku kini nyeri memikul perih Tertahan waktu dan sesak menyelimuti Ku panggil hatimu yang kian jauh Dalam sekejap hilang ditelan mati

Matahari

Kepada musim di mana hangat berkuasa tak kenal lelah Diriku kini sedang hidup sebagai matahari Kekal sendiri di pagi hari Menyinari segala hal yang kusenangi pun kubenci Angin dan awan hanya lalu lalang silih berganti tanpa menemani Aku suka berkeliling menyusuri pagi Bermain sebentar dengan anak-anak angin di sekitarku Lalu pergi menuju siang di tengah hari Dan ku akhiri dengan menjemput bulan di ujung senja Kuhampiri bulan yang sedang cekikikan bersama seorang bernama bintang Aku cemburu kepada bulan Mengapa Ia selalu datang berdua Mereka suka berbagi canda tawa semalaman Beda denganku yang lebih banyak sendirian Tapi aku terlalu mencintai pagi Bulan dan bintang mudah berlalu begitu saja Kini kusambut kembali pagi kesayanganku Hanya Ia yang setia kepadaku

Hati yang Didustakan

Batin ini seperti sengaja menenggelamkanku Ke dalam riuh dusta yang telah kau ciptakan Dustamu sudah terlanjur mencanduiku Yang tiap detiknya kunikmati bersama sepi Tersiksa dengan segala langkah yang kulalui Aku berusaha duduk di tepian bayanganmu Tapi aku bagai duduk di atas duri Duri di sela-sela keraguan Kini aku ada di atas angin Mencari kehadiranmu yang tak kunjung ada Keluh kesah sudah jadi konsumsiku seharian ini Aku sudah ada di ujung dustamu

SELVIANA

Perempuanku, SELVIANA Di kala perjalananku menjemput kenangan Aku pun menuliskan kutipan tentangmu yang sengaja sudah kulekat kuat dalam sebuah ingatan manis Sinar pagi pukul tujuh mengendus dari balik pepohonan Elegi masa lalu tentangmu telah mengikat kuat dalam kepalaku Lalu lalang segala hati di perjalananku hanya bisa bersaksi bahwa kita adalah satu Venus sudah setuju dan berlalu dengan senyuman terindahnya Ijinkan aku mengucap sebuah doa dan janji kepadamu Aku bernafas dengan sisa-sisa udara dan menahan segala debar di dadaku  Namamu telah kusematkan di ujung musim yang kupunya Aku ingin kita menikah Salam, Yang Kamu Rindukan

Hati yang Berduka

Teruntuk hati yang sedang mendukakan dirinya Ku hantarkan segala duka pada masa yang paling sedih Berhias hujan yang jatuh dengan ketidakharmonisannya Dengan segala letupan-letupan bernama emosi Dan lihatlah di ujung penantianmu kelak, kan kau dapati hati yang lara penuh dengan sesal Lalu.. Cukup diam dan nikmatilah.. Itulah rasanya ketika duka menghampiri

Sembilan Belas

Pada sembilan belas aku membuat hari Diam memejam merapalkan doa Kuminta segala-gala yang baik Meramaikan apa yang sudah sepi Mengisi apa yang baru saja kosong Menggenapkan apa yang ganjil Aku detikmu Dan kamu menitku Kita bersatu dalam satuan waktu Kita adalah potongan-potongan episode Yang disatukan Tuhan menjadi sebuah cerita di balik genggaman-Nya Pada sembilan belas aku menanti Berharap kelak kita kan selalu ada Di sebuah masa di mana kita menempuh jalan yang sama Hingga menua dan memejamkan mata Kepada sembilan belas Aku Mencintaimu dan Dicintaimu. Selamat tanggal sembilan belas ♥ Salam, Episode-episode Masa Depanmu

OLIVIA

Teruntuk OLIVIA Perempuan manis dengan hijab warna terang kesukaannya Dua tulisan telah kusemat kuat di sela-sela jemari tangan kanan dan kirimu Oranye senja kali ini sejenak membuka laci ingatan di kepala Laci ingatan yang sudah kutamatkan demi riang masa depanku Indah cinta sempat kita semai bersama rindu di ujung perih Virus perih yang dulu pernah mati, kini hadir bersama pelangi Impian indah kala itu bisa kita rengkuh kembali bersama semesta Aku hanya sekedar ingin memelukmu.. Lagi dan lagi.. Orkestra hati sudah berulang kali kita perdengarkan seharian ini Lelap malam mengemis untuk segera dilabuhkan Irisan mimpi mulai meriuh dalam kepala Volume suara hewan malam semakin meninggi, lalu menghilang Irama malam kian membenamkan dirinya Aku rasa ini sudah waktunya kita bangun dari lelap semalam Salam, Yang terlanjur mencintaimu

Jauh

Aku sudah mulai bosan dengan segala iya yang kau tawarkan Entah sudah berapa sabar dan rela yang aku beri Kini aku hanya mampu menuliskan namamu di air Dan berharap hujan menghanyutkannya Jauh

Perempuan Sore

Gambar
Baru kali ini aku melihat orang sebahagia itu dengan senja di depan matanya. Aku hanya terpaku, dengan segala heran yang kupunya. Perempuan sore, aku menyebutnya demikian. Untuk pertama kalinya, aku bertemu dengannya dalam perjalanan menuju rumah orang tuaku. Perempuan itu duduk termenung di balik jendela salah satu ruangan di rumahnya. Ruangan itu ada di lantai dua. Secara tak sengaja, ketika aku hendak ke rumah orang tuaku, aku mendapatinya melamun. Entah dia melamun karena memikirkan hal berat di dadanya atau hanya sekedar memandangi senja di depan matanya. Pandangan matanya mencuri perhatianku. Dari sekian perempuan yang aku jumpai di perjalananku selama ini, baru kali ini debaran aneh itu lahir di saat aku melihat matanya walaupun dari jauh. Aku ingin memanggilnya dengan alasan menanyakan alamat yang sedang kucari. Padahal sebenarnya aku penasaran dengan sosoknya. "Mbak, permisi, mau menanyakan alamat. Apakah bisa ditunjukkan?" Tanyaku sambil mendongakkan kepa...

Secangkir Kopi

Entah sudah berapa cangkir kopi yang kusesapi pagi ini Kupaksa tubuhku menelan pahit manisnya kopi Menyiksa diri merengkuh kedamaian Ah.. Hidup memang melelahkan Untuk hari yang berlalu Musim yang berganti Demi asa yang tak tergapai Biarkan saja tangan ini merapalkan doa Cangkir demi cangkir kini kutinggalkan Kusimpan rapat dalam laci ingatan Lalu hilang dimakan jaman

Ego

Kalau saja kau mau sedikit peka Dadaku tak mungkin sesesak ini Hati tak akan serapuh ini Membuncah di kepala Entah ego yang mana lagi ini Menjadi dinding pembatas dalam diri Mengunci rapat mulutku Menghentikan derap langkah Segala kopi sudah kusesapi Dengan semua rasa di semua musim Sepotong rindu menyengaja hadir Lalu kubiarkan mati dalam pelukan Hanya sekedar untuk menghancurkan gengsi

Sore

Segala angin yang meniupkan kebahagiaan Selewat senja yang menggetarkan lamunan Demi sore yang aku kagumi Aku bersumpah dalam hening Mengurai rasa di bawah Sang Maha Jingga

Jika

Begitu banyak jika yang lalu lalang di telinga Yang sudah entah berapa ratus kali kau perdengarkan Aku bosan dengan keterjikaanmu Dan aku sudah lelah membicarakan banyak jika di antara kita Bila pada akhirnya, jika itu sendiri yang akan membunuh kita

Kurang Apalagi Kita Ini?

Ketika pagi merindukan senyuman Mentari lah pemilik senyum terindah itu Begitu pun malam yang merindukan canda tawa Bulan dan bintang lah pemenangnya Suara nyaring terdengar dari balik senja Riuhnya memenuhi rongga telinga Mengusik nadiku yang masih berdenyut mesra Mesra seperti Desember dan hujan Di saat yang sama, aku tak ingin melewatkan pelangi di ujung senja Menantimu di depan pintu Memelukmu seusai kesibukan mendera Mengecup di tiap sebelum dan sesudah lelap memayungi kita Aku ingin mendekapmu setiap hari Sepanjang musim dan selama bulan yang kita lalui Tertawa dengan damai Mengusir kegundahan dalam hati Tetiba manja matamu memecah keheningan Menggoda, membuyarkan lamunan. Menarik bibir menggenggam tangan Hangat penuh rayuan Rayuan manis membius bilik-bilik hati Memulas senyum penuh bahagia Peluh menetes tanpa keluh Bahagia kita tergambar jelas Kurang apalagi kita ini?

Kepalan Rindu

Aku masih saja duduk terdiam Memandangi senja yang kini telah berganti malam Pikiranku sekejap menyelam Memberi salam pada ruang-ruang kosong di relungku Aku tersesat di dalamnya Dihimpit rindu dari berbagai penjuru Mengunci rapat kaki Mematikan hati Rindumu begitu teganya menjamahiku Melesakkan peluru terkuatnya Menusuk jantung Sesaat ku terdiam Merenung, meratapi yang telah terjadi Aku perlahan lupa Ku coba merogoh sebagian rindu yang tersisa dalam saku perasaanku Rindumu ternyata tinggal segenggam Lalu ku buat menjadi kepalan Kepalan ini siap untuk meninjumu Bersiaplah!

Rindu

Rindu ini telah lama kubiarkan memejam Meluruh bersama hujan dalam dada Aku merindu dengan sangat menggebu Kuhidupkan lagi rindu yang sudah lama usang dimakan jaman Detik-detik bersamamu sedang kurangkai dalam kepala Membuai lepas ingatan indah di hari kemarin Rindu ini serupa balon gas Yang kutiupi hingga pipiku memerah Lalu pecah begitu saja di udara Dan aku pun girang dibuatnya Aku rindu Saking rindunya aku ingin menggenggam mendung Lalu ku jatuhkan ke tanah hatimu yang sudah lama mengeras bersama ketidakrinduanmu Aku rindu berkali-kali, tak cuma sekali Dan hanya pada satu titik aku tertuju Berkacalah, dan kau akan tahu siapa yang aku rindukan Sudah terlalu banyak rindu yang kumuntahkan Tak kuat menahan beban rindu yang teramat lama tak kauhiraukan Kubiarkan saja rindu ini terlelap lalu pecah dalam mimpimu Semoga kautemui aku di sana Dan kita bisa saling memeluk rindu hingga esok menjelang

Kenangan

Kilau keemasan muncul dari daun sebuah pohon Daun yang dulunya hijau tua Kini berwarna kuning menuju kering Lalu hancur dimakan masa Sama seperti kenangan yang kau tuliskan Yang kini telah menjadi sebuah buku Dimana tiap kali aku membacanya, aku selalu ingat namamu Buku itu berwarna-warni Serupa pelangi dengan jutaan warna didalamnya Merah jingga kuning hijau biru nila ungu dan juga lainnya Buku itu nampak manis sekali Pikirku, jika aku lengkapi dengan pembatas buku berwarna putih dan hitam Maka akan terlihat semakin manis dan lengkap oleh segala warna Namun, pembatas buku itu perlahan membunuhku Menghisap segala ingatan tentangmu Menghapus warna-warni kenangan kita Aku menyesal Kini hanya tersisa gerimis dalam dada Yang sudah habis ditelan musim Tapi aku masih menyimpan buku itu di laci kepalaku Agar kelak ingin kau buka dan kau baca lagi

Huruf

Namamu itu huruf Yang terangkai apik menarik mata Memesona bibir ini untuk mengejanya Mengikat kuat dalam dada Huruf itu berlanjut menjadi sebuah nama Nama indah yang diluncurkan Tuhan Sebagai hadiah selamat pagi untukku Biru serupa langit di atas samudera Nama berwujud rupa Hinggap dan terbang dengan sesuka hati Kepalaku penuh oleh riuhnya Riuh yang lebih hebat dari hujan di bulan Januari Kamu, mereka menyebutnya Huruf yang berisik di telingaku Menawarkan diri mereguk cinta Dengan sejuta musim di dalamnya

Terjaga

Tengah malam sudah beranjak dari sepuluh menit yang lalu Bulan semakin meninggi Berjalan perlahan mengitari bumi Bintang pun setia menemani Mata ini belum bisa memejam Masih sibuk memandangi jam Dengan segala pekatnya malam Padahal angin sudah memberi salam Bantal dan selimut sudah tersedia Tak maukah kau segera membaringkan diri? Terlelap dengan kegembiraan Jauh dari gundah dan gelisah Ayolah segera tidur Dengan sedikit mendengkur Berbahagialah Ini akan menjadi hari kemarin

Hunjaman Pagi

Hawa dingin menyusup masuk Gelitik kecil menari-nari Rongga hidung menjadi penuh dengan udara Oh.. Sembilan belas derajat celcius rupanya Pagi sudah mulai ramai Ramai dengan segala teriakan dan riuhan yang datang menghunjam Dan aku pun masih terhanyut dalam lamunan Hunjaman pagi menyadarkanku Aku terbelalak Menyaksikan segala kenangan yang telah meraksasa di benakku Aku mencoba enyah Pikiranku semakin berkuasa Paku kepahitan menancap kuat di dinding hatiku Bayangmu mengunci setiap sudut ruang dimana aku bergerak Aku meronta-ronta Aku coba memejam Namun tak membantu Aku terkoyak dan mengepul seperti asap Lepas lalu terhempas

Terlanjur

Keterlanjuranku mencintaimu Membunuh dada sebelah kananku Mataku penuh dengan tetesan sayang Aku terpelanting Tanpa terasa aku pun menyiksa diri Memenuhi rongga batinku dengan segala teriakan Aku ingin melemparkan diri ke hadapanmu Menjadikanku pusat perhatianmu Dengan segala tenaga yang masih melekat di tubuhku Aku merangkak menuju tanah hatimu Aku pun terjatuh Aku sebenarnya rindu Rindu yang teramat sangat Tapi rindu itu tertelan hidup-hidup Lalu mati dalam kenangan Aku merelakanmu

Musim

Sepoi angin membelai Hawa panas menyembul dari balik awan Berarak melintasi semesta Cair bersama hujan Berakhir dengan rimunan senja Musim pun berganti menjadi riuh yang hadir dari kerumunan burung di udara Menapaki sebagian surga yang ada dalam hingar bingar semesta Alam pun berbisik Berisik Namun sangat asyik Menelisik Menari-nari dengan apik Takut telah menyambut Segala carut marut pun menuntut Semakin ku larut dalam kalut Musim mulai berganti lagi Namun tanpa riuh Sepi lalu sunyi Dan senyap pun menyelinap dari dalam dadaku Bersama rangkaian asa dan segala ego Aku pergi..

Sembunyi

Aku ingin sembunyi Dari segala beban yang memberatkan Tapi tak semudah dengan apa yang dibayangkan Aku ingin sembunyi Di balik selimut yang hangat Lalu terlelap di dalamnya Aku ingin sembunyi Dari balik mata indahmu Yang memunculkan banyak tanya dari dalam kepalaku Aku ingin sembunyi Dari balik punggungmu Dengan genggaman erat yang cukup kuat, ku pun menarik baju belakangmu Aku ingin sembunyi Dari segala keramaian Yang riuhnya memecah segala rupa yang ada dalam angan Tapi.. Aku tak ingin sembunyi Dari semesta yang meluruh di pagi hari Yang menampilkan sejuta harapan nan gemilang, bagi hati yang temaram

Akulah Gerimis

Akulah gerimis Berwujud bulir-bulir Yang menunjamimu dengan hati-hati, namun menyakitkan Akulah gerimis Yang berubah jadi hujan Perlahan membanjiri tanah dimana engkau menancapkan kenangan masa silam Akulah gerimis Yang kecil dan penuh riuh, dikala keheningan dan sepi telah merajai tanah hatimu Akulah gerimis Yang nantinya akan selalu dirindukan pelangi Pelangi yang terjebak dalam damainya sang mentari

Pagi Merah Jambu

Pagi sendu mulai beradu Terlihat awan merah jambu sedang bercumbu Bersatu padu, mengucap syukur Mengalun indah dengan sangat akur

Siklus Rindu

Rindu datang dengan segala cara dan segala rasa Dengan cara yang sama saja ataupun berbeda Dan segala rasa yang mengalir begitu indahnya Begitu manis pun pahit akan tetap terasa Jika rindu itu berbalas dengan sendirinya, tanpa diminta

Menunggu Kamu

Dengan bertopang dagu aku memandang jauh ke luar jendela Termenung, lalu ku mulai menghitung detik jam di tangan Ku tunggu sampai menunjuk angka 7 Kita berjanji untuk saling menyapa malam ini Angka 7 terasa lama Padahal senja sudah usai sejak tadi Lebih baik aku membunuh waktu Ku balikkan badanku Berlari menuju cermin Ku pandangi dari ujung rambut hingga ujung kaki Lalu ku dekatkan wajahku Mata ini sudah siap memandangimu dengan baik nanti Menunggu kamu itu menyenangkan juga menenangkan Ku mulai bersiap Ku rapikan lagi pakaian indah di badanku Ku poles lagi bibirku dengan gincu pemberianmu Penantianku berakhir sudah Yang ku rindukan kini tiba Aku tak lagi menunggu

Pintaku Kepada Tuhan

Menjalani hari-hariku bersamamu Dengan berjuta-juta, bermilyar-milyar, bertrilyun-trilyun rasa yang ada dalam hati Rasa dimana aku sangat menikmati kesenanganku Di sampingmu, Di dalam relung hatimu, Di setiap nafas yang kau hembuskan Dengan hati bahagia dan senyum yang mengembang di setiap waktuku Berhias pelukan dan dekapanmu di setiap rinduku Nama kita sudah ku siapkan di ujung senja Agar kita bisa melihatnya bersama-sama Pintaku kepada Tuhan Agar selalu ada bahagia di setiap hariku, harimu, hatikita Aku tak ingin ada jeda di antara kita Spasi dan koma pun aku tak mau Bersama dalam lapar dahaga kehidupan Mengejar cita-cita dan ingin kita Bersama-sama dalam segalanya Bersamamu

Pada Akhirnya

Dulu aku pernah sendiri Menyusuri hari-hari bersama sepi Tapi aku tak ingin sepi menguasai diri Dan aku pun beranjak pergi Ku buka lembaran baru Dengan sejuta senyum mengembang di bibirku Menikmati segala hari baru di depanku Lalu ku diam-diam mulai terpaku Kau datang membawa sepercik harapan Harapan yang selama ini aku minta kepada Tuhan Tuhan memang Maha Pemberi Jawaban Kau memberiku perhatian Perhatian yang selama ini ku rindukan Kau menawarkan segala hal manis kepadaku Yang membuatku lupa akan hal pahit di luar sana Kau sodori segala hal yang membuatku tertawa Memberi semua pelukmu disaat sedih mulai meraja Belaianmu yang selalu ku damba Dan ternyata.. Itu hanya sekejap mata Kini aku mulai mengerti Bahkan sangat mengerti Lebih dari sekedar pengertianmu selama ini Pada akhirnya, yang selama ini kau inginkan bukan aku Bukan parasku Bukan pula hadirku Kau tidak jatuh cinta kepadaku Apalagi menjadikanku sebagai pujaanmu Kau hanya seorang penjelajah hat...

Kesenanganku

Aku suka membuatmu tersenyum Membentuk senyum simpul terindah dari balik bibirmu Detak jantungku tak kuasa menahan geraknya, tiap ku lihat sinar kebahagiaan dari balik matamu Mata terindah yang tak pernah jemu aku pandangi Yang tak pernah sedetikpun aku lewatkan Memandangimu dengan baik adalah caraku bersyukur akan apa itu anugerah Tuhan Mungkin aku sudah mulai buta arah Karena apapun yang terjadi, aku hanya ingin berlari ke arahmu Mendekapmu di setiap pagi Mengecupmu di kala dinginnya malam Dan tak lupa belaianku di saat keraguan mulai muncul menujumu Kini.. telah ku sajikan hati yang sudah ku bungkus dengan kerinduan Lalu ku tali-pitakan dengan senyum terindahku Tak lupa ku balut dengan warna-warni balon kedamaian Dan ku bunyikan dengan alunan musik yang bernada kebahagiaan

Manusia (Tak) Sempurna

Kamu memang manusia sempurna Oh tidak.. tidak.. Kamu belum akan sempurna jika.. Jika belum ada aku di sampingmu Jika belum ada jemariku yang kau genggam di saat merindu Jika belum ada dekapanku yang menghangatkan punggungmu Jika belum ada kecupan hangat di kedua pipi lembutmu Jika belum ada aku di setiap hela nafasmu Sempurna itu tak bisa sendiri Sempurna tercipta jika ada pelengkapnya Dan pelengkap kamu itu aku Dan pelengkapku ya pasti kamu Aku dan Kamu Yang dulunya dipisahkan oleh jarak Kini telah bersatu dalam ruang bernama waktu Dan ternyata waktu lebih kejam daripada jarak Menunggu waktu itu menjemukan Tak seperti jarak, yang masih mau berbaik hati memberikan ruangnya kepadaku walaupun sekedar untuk bertegur sapa denganmu Ah tak apa.. Waktu memang menjengkelkan Sama menjengkelkannya dengan kamu Yang terkadang memberi semburat pilu di setiap inginku bertemu denganmu Tapi aku bersyukur Di setiap waktu ku, ada sos...

Aku. Kamu. Tuhan.

Untuk seseorang yang ada di hatiku saat ini Sayangku, Tahukah kamu mencintai dalam diam? Diam-diam aku mencintaimu Tahukah kamu mencintai dengan air mata? Dalam tangis, aku masih tetap mencintaimu Tahukah kamu mencintaimu dengan senyum? Aku mencintaimu, dengan tiap senyuman yang tergurat di bibirku Aku suka bahasan tentangmu Apalagi membicarakanmu dengan Tuhanku Bercengkrama dengan-Nya tentang apa saja yang berhubungan dengan kamu lewat doa Entah kenapa aku suka Aku suka memelukmu Tapi aku lebih suka cara Dia (Tuhan) memelukmu Coba sekarang tidurlah sayang dan rasakan bagaimana Dia memelukmu Karena di saat Dia memelukmu, itulah caraku merindukanmu Dan di situ pula terselip rasa bahagiaku memilikimu

Adu Nasib

Aku berjalan menyusuri hari-hariku Setapak demi setapak Ku biarkan kakiku menuntun kemana aku melangkah Entah menuju pagi, senja, malam, ataukah menujumu? Kita dipisahkan oleh sekat yang tak terlihat Namun hanya berjarak kepala dan leher Saling terikat waktu Aku dan Kamu mengadu nasib Bercanda dalam tawa Bergumul dengan kesetiaan Demi satu kesatuan Kita

Apa Pedulimu?

Apa pedulimu jika rasa yang indah itu datang tiba-tiba Kamu mau senang? Bahagia? Gembira? Tertawa? Atau justru sedih? Murung? Gelisah? Menangis? Apa pedulimu jika rasa yang indah itu telah jatuh ke relung hati paling dalam Kamu mau menampiknya? Menolaknya? Mengabaikannya? Hati sudah aku jatuhkan Kepada yang satu ini Satu-satunya dan tak ada dua Tapi.. apa pedulimu? Pada perasaan yang hanya aku saja yang merasakannya, hanya aku yang menikmatinya, dan kamu tidak Kamu tak peduli Kamu hanya bisa diam Diam sendiri seperti mati Mati bersama rasa Rasa ketidak-sukaanmu terhadapku

Hilang

Kalau saja hilang bisa aku lakukan dengan sekejap mata Sekarang, saat ini juga, aku ingin menghilang Menghilang dalam gelapnya malam Menghilang dari sorot matamu Dan terlihat dari seberang sana,  kau mengguratkan senyum picikmu Senyum senang dan girangmu setelah melihatku menghilang Kamu senang? Iya? Berbanggalah! Bahagialah! Tak akan ku sesali Tak akan ku tangisi Lagi Aku lebih nyaman begini Menghilang bersama malam Dibawa bintang Dibuai sang rembulan Diterbangkan elang Melayang-layang Sudahlah! Bersenang-senanglah sekarang! Tertawalah diatas sedih ku Menarilah diatas pedih ku Biarkan aku larut bersama senyum mu Senyum yang kelu merangkai semu