Postingan

Jarak

Ada suatu masa di mana aku dan kau terpisah oleh sekat bernama jarak. Izinkan aku memutar kembali ingatan kita dulu. Sembari aku memelukmu erat dengan sisa air mata yang ada; walaupun nantinya akan habis ditelan waktu. Aku dan kau sedang tidak dekat. Mata kita rekat. Mulut kita tercekat. Bayang-bayang kita enyah bersama pekat. Jika aku dan kau saling rindu, jutaan harap menguar dari dalam hati. Memaksa tubuh dan segenap pikir agar dapat saling temu. Walau harus berakhir dengan keluh dan juga peluh. Kini aku dan kau kian jauh. Harapan demi harapan akan sebuah pertemuan semakin ingin kita rengkuh. Namun apa daya jika akhirnya kita tak saling butuh. Masih adakah rasa yang ingin kita kayuh? Meski rasa yang pernah ada di antara kita sudah lebih dulu rapuh. Kubiarkan rasa ini kian gaduh lalu hilang bersama kopi yang kuseduh. Dari, Hati yang angkuh.

Sialan

Ketika kesakitanku diuji Ada yang tiba-tiba mengaku baik menawarkan banyak harap yang terlalu muluk Dengan topeng malaikat ia hadirkan kepercayaan yang begitu meyakinkan Aku dibuatnya terlewat percaya Sadar tak kutemui hari itu Hanya rasa sakit dan peluh yang terus saja menggelayuti Aku tenggelam dalam lena abadi Terjebak, Dalam kelebat bayang-bayang penuh kemunafikan Terlanjur, Setelah sadar sudah bisa kurengkuh Terlambat, Semua sudah terjadi Hasut sudah lebih dulu tiba Pahit, kecut, getir Hancur dan bersemayam di kepala Dasar sialan.

Hari Ibu

Ruang-ruang kosong itu kunamakan kesunyian tatkala jauh dari yang kusebut rumah Tempat di mana aku akan kembali memeluk guratan kerinduan dari sosok penuh dengan kasih sayang Ibu, Ciptaan Tuhan nan mulia Daripadanya tumbuh benih-benih kebahagiaan yang tak pernah bisa diukur dengan apapun Kasih sayangnya yang tiada tara mengalir deras hingga titik darah penghabisan Ibu, Tempatku berpulang dan berlindung ketika lara hati yang kusimpan sendiri sudah tak kuat bertahan lagi Kutangisi diamku sendiri Mengecap luka Ibu hadir menumbuhkan rindu Menciptakan hawa yang begitu ikhlasnya Ternyata sudah genap dua belas hari Jauh dari segalanya tentang Ibu Pelukan hangat, usapan tangan, masakan lezat dan segala hal yang membuat bahagia "Nak, kelak kau akan dapatkan apapun yang diinginkan jika sabar selalu ada di genggamanmu." Begitulah pesan Ibu kepadaku Namun aku terlalu sombong Aku bersikeras kuat sendiri Dan berpikir aku tak butuh Ibu Seiring berjalannya waktu, b...

Hampa

Genap sepekan Di kala hujan sudah turun entah berapa kali Sepasang mata yang teramat kurindukan Ia pergi untuk kembali Raut wajah yang menenangkan Bahu yang nyaman untuk disandari Kian hari memikat hati Aku, tenang dibuatnya Nyaman di dekatnya Rela menunggu walaupun hanya bertegur sapa Memandang sekilas lirik matanya Hampa nyata rasanya Ketika Ia tak kunjung tiba Seolah sembunyi jadi senjata Akankah Ia datang Membawa jutaan harap dan rindu yang bergejolak Yang nantinya kita lebur pada suatu pertemuan

Cinta yang Bertumpu pada Kenyamanan

Sebagai manusia biasa, aku tak tahu akan kapan, dengan siapa, dan di mana kita akan jatuh cinta. Entah itu dengan orang yang kita kenal, baru dikenal, ataupun belum kita kenal sama sekali. Cinta itu aneh dan cenderung seenaknya sendiri. Hanya dengan beberapa alasan saja bisa menimbulkan cinta.  Bisa cinta abadi, sesaat, atau mungkin cinta paksaan saja. Rumit memang. Cinta juga bisa bertumpu pada beberapa hal. Salah satunya adalah bertumpu pada suatu hal yang sering disebut " kenyamanan ". Untuk soal kenyamanan bisa relatif dari masing-masing orang yang menjalaninya. Nyaman yang bagaimana? Bisa nyaman yang berujung pada rasa ingin memiliki, Bisa nyaman yang hanya sesaat ataupun sementara saja, Ataukah nyaman yang begitu hangat dirasa hingga menimbulkan rasa sayang, cinta, dan perhatian yang mungkin cenderung berlebihan. Rasa nyaman terbangun karena adanya kebersamaan yang intens antara manusia yang satu dengan yang lainnya.  Bagaimana jika nyaman datang ...

Puisi Pukul Tiga

Lelah berpikir yang tidak-tidak Siksa batin menyayat sendiri Lagi-lagi luka Luka yang terus terulang Ingin mati rasanya Seperti sore pukul tiga Sehabis adzan ashar berkumandang Dengan hawa yang sama Berkali-kali (2014)

Sepi

Kudapati sosok penuh luka dalam kenangan Ia bersimbah masa lalu yang tak pernah lekang Matanya meratap Tertekan lalu mengiris nadinya sendiri (2014)